Hari itu matahari mulai lelah dan bersiap untuk tidur di singgahsananya, aku
memberanikan diri mendekati lelaki itu di ruang tamu, satu-satunya lelaki di
dunia ini yang kupercaya tak akan menyakitiku dan menghianatiku, lelaki yang
rambutnya mulai memutih, Ayah, tak mau kupanggil Bapak.
Meja,kursi,lampu,lantai,dinding
,pintu dan jendela ini menjadi saksi bisu pembicaraanku dengan Ayah. Yap, Lulus
Widyandoko, lelaki yang selalu kubicarakan tadi. Namanya memang sedikit aneh
“Heh dulu nama itu ada asal-usulnya lo nduk..” katanya sambil menerawang ke
langit-langit atap rumah, mencoba mengingat masa lalu.
“Dulu mbahkung sama Yangti pengen
punya anak laki-laki eh tapi anak pertama malah perempuan, habis itu Yangkung
sama Yangti gak nyerah, mereka terus berdoa’a, eh tapi kok anak kedua dan
ketiga perempuan lagi. Sempat hampir putus asa, tapi mereka juga tetep berdoa’a
tambah rajin sama Allah, eh ya alhamdulillah banget lo nduk, anak yang ke 4 kok
ya laki-laki, ya Ayahmu ini. Makanya namanya lulus artinya lulus udah dapat
anak laki-laki gitu, hahaha” katanya dengan tawa yang menggelegar. “Setelah Ayah
eh malah kebelakang anak lelaki semua nduk, ya om sony sama om wiwit itu, om
sony anak ke 5 dan om wiwit anak ke 6” ujar lelaki penyuka warna abu-abu itu.
Samar-samar
suara televisi dari ruang tengah yang sedang ditonton adik dan Ibuku terdengar,
meramaikan suasana kala diantara kita kehilangan bahan pembicaraan.
“Selain itu juga nama Widyandoko ada
artinya nduk, widya=ilmu, handoko=banteng, jadi kalau digabung ilmu kerakyatan,
suka bermasyarakat. Iya to nduk, kan banteng di pancasila artinya apa hayo?”
kata lelaki kelahiran Madiun, 13 Januari 1963 itu.
“Rumah Ayah dari lahir sampe SMA ya
di situ lo nduk, yang di Madiun itu.. di rumah Yangkung di jalan kapten saputra
no 85, Alhamdulillah dulu rumahnya Yangkung gede, jadi muat dipakai 9 orang,
haha” ujarnya lagi.
“Riwayat
pendidikan Ayah itu SDN endrakila (1969-1975) SMPN 4 Madiun (1975-1979) SMAN 1
Madiun (1979-1981) setelah itu kuliah S1 di ITN Malang (1983-1990)” kata lelaki
berusia 49 tahun itu. Meskipun Ayah sudah menyandang gelar insinyur sekarang,
tetapi Ayah mengaku ogah mengikutsertakan gelar itu di depan namanya.
Menginjak SMA kelas
XII, Kakak peremuan Ayah, atau lebih tepatnya anak ke-3, Tri Prasetyoningrum,
mulai mengenalkan calon suami nya, Tedjo Rumekso, kepada Yangkung. Sedangkan
dua kakak perempuan Ayah sudah lebih dulu menikah.
“Jadi dulu itu Ayah akrab sama pakde
Tedjo sebelum menikah sama budhe Ning, dulu karena Ayah pengen banget bisa
nyupir akhirnya setiap kali pakde Tedjo ngapel ke rumah Yangkung, mobilnya
selalu Ayah pake buat belajar, pernah pada suatu hari mobilnya tabrakan ke
pohon, peyok kabeh, hahaha” tawanya.
“Untungnya pakdhe Tedjo gak marah
nduk, lha nanti kalau beliau marah gak direstuin Ayah dong hubungannya sama budhe
Ning, hahaha” ujar lelaki itu sekali lagi dengan tawanya yang khas.
Setelah
lulus SMA sebenarnya Yangkung pengen Ayah jadi dokter, soalnya Ayah anak lelaki
yang paling tua jadi harus ngasih contoh yang baik, selain itu juga Yangkung
pengen banget ada anaknya yang jadi dokter, waktu itu Ayah menuruti keinginan Yangkung di
Universitas Airlangga jurusan kedokteran. Tapi kenyataannya Ayah tidak lolos
tes. Ironisnya karena watak Yangkung yang kemauannya harus bisa diwujudkan dan
karena obsesinya yang sudah terlalu tinggi, Ayah dipaksa disuruh les ini itu dan
belajar terus setahun penuh buat nanti ikut tes tahun depan. Saat pengumuman
tes keluar, ternyata Ayah tak masuk lagi, saat itulah Yangkung sadar kalau
memang tempatnya Ayah bukan disitu, dan membebaskan Ayah memilih universitas
sesuai keinginan hatinya.
Ayahku yang waktu itu, langsung memilih
ITN Malang jurusan Teknik Sipil.
Ketika
Ayah semester 2, budhe Ning dan pakde Tedjo melangsungkan pernikahan, secara
sah mereka sudah berstatus suami istri, Ayah senang dengan itu semua. Lalu
pakdhe Tedjo lah yang membiayai kuliah Ayah dari semester 3 sampai wisuda.
Ketika
Ayah kuliah di Malang, Ayah ngekos di Jalan Yogyakarta Dalam nomor 7, kos yang
berisikan 20 orang laki-laki itu benar-benar sangat ramai. Tapi wanita yang
kadang-kadang mampir ke kos nya untuk memberikan makanan atau sekedar
berkunjung untuk menemui Pakde Hendro yang notabene adalah mas dari Ibu saya, Lilik
Wulandari, kebetulan ibu saat itu juga kuliah di Malang, di IKIP Malang jurusan
Matematika. Wanita itu enar-benar menarik perhatian Ayah. Lambat laun Ayah
terpikat dengan gadis tersebut dan berniat akan menikahinya kelak di saat Ayah
sudah memiliki pekerjaan. Sebenarnya
Ayah waktu itu ingin melakukan pendekatan terlebih dahulu atau lebih tepatnya
pacaran sama ibu, tapi karena sungkan sama Pakde Hendro akhirnya Ayah baru
berani mengatakan perasaanya seusai lulus kuliah. Lulus kuliah di tahun 1991 sampai
1996 Ayah langsung menyatakan perasaanya dan ditrima oleh ibu, Ayah membelikan
sebuah boneka beruang yang sangat besar sekali.
Cerita
cinta Ayah dan Ibu pun dimulai, seusai kuliah Ayah langsung merantau ke Jakarta
mengikuti temannya yang sudah sukses. Sedangkan ibu tetap di Malang melanjutkan
kuliah, karena ibu belum lulus. Ayah dan ibu melakukan LDR (Long Distance
Relationship). Selama 2 minggu Ayah menginap di rumah temannya yang bernama
Agus. Tapi lama kelamaan Ayah merasa sungkan karena Pak Agus saat itu sudah
berkeluarga. Ayah memutuskan pindah ke rumah temannya yang bernama Harry. Harry
yang waktu itu sedang menginap di rumah temannya, akhirnya membiarkan Ayah
menginap di perumahan kosong tanpa listrik sendirian selama 2 minggu. Lelaki
yang sekarang kupanggil Ayah, waktu itu sedang pontang panting mencari
pekerjaan, menginap di dalam rumah kosong tanpa cahaya. Dalam ketakutan Ayah
tetap bertahan, setiap waktu tak ubahnya selalu sholat tahajud, memohon kepada
Allah setiap malam, berharap doa’nya segera dikabulkan oleh Sang Maha Esa. Aku
tak tega membayangkan keadaan Ayah yang seperti itu.
Dalam
keadaan seperti itu Ibu yang selalu menguatkan Ayah, selalu berkirim surat
menanyakan kabar atau saling berbagi cerita. Karena saat itu harga HP sangat mahal.
“Iya nduk, kalau nggak percaya besok kalau ke rumah nenek tak kasih tau
suratnya, walah ada seambrek nduk. Masih ibu simpen. Dulu itu selalu seneng
banget pas ada pak pos di depan kos. Sampe sekarang ibu seneng banget sama
lagunya Dewa 19 yang judulnya Kangen. Selalu ngingetin ibu sama Ayah” ujar ibu.
Karena
semua itu akan indah pada waktunya, tak disangka setelah perjuangan Ayah yang
berliku-liku untuk mencari pekerjaan. Akhirnya Ayah dapat panggilan pekerjaan di
CV Jati Kuning sebagai Site Eneering, dan beliau langsung berniat menikah dengan
ibu. Pada tanggal 26 Oktober 1994, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba.
Puncak dari segala penantian. Ayah mempersunting ibu.
“Dulu itu pernikahannya
dirayakan kecil-kecilan, cuma di depan rumah Mbauti itu lo nduk, yang di
Tulungaung, di Jalan Lawu nomor 24 Bolorejo Kecamatan Kauman” Sambung Ibu yang
ikut menemani kami di ruang tamu. “Dulu Mbauti sampe bilang ngene nduk ‘Aku
heran, sing nyenengi awakmu kok wong meneng-meneng ae ketmbiyen, padahal kamu
ki cerewete koyok ngono’ Hahaha justru itu to nduk yang dinamakan pasangan yang
serasi. Namanya kita aja udah mirip. Iyo to mas?” kata Ibu sambil melirik genit
ke arah Ayah. Aku sontak tertawa, masih saja tingkah mereka seperti ini. “Dulu
itu Ayahmu orangnya yang paling baik diantara 7 saudaranya, paling pendiem, gak
kakean polah, sholat 5 waktu gak pernah ketinggalan, plus Ayahmu itu lo gak
suka kopi sama rokok, benar-benar cowok impian” Aish.. Ibuku ini ternyata
memang benar-benar cerewet.
Setelah pernikahan berlangsung
Ayah ditugaskan untuk mengerjakan proyek di Kelud, Kediri. Ibu waktu itu ingin
mengikuti Ayah, akhirnya setelah menikah Ayah dan Ibu tinggal di daerah Kelud.
Lalu kabar gembira pun datang, Ibu
ternyata hamil. Ayah waktu itu langsung mengecup kening ibu mengucapkan terimakasih.
Laksana awan hitam yang tiba-tiba menganggu ketentraman awan putih dan merusak cerahnya pagi, menghilangkan pelangi dan matahari. 3 bulan kemudian kabar buruk itu benar-benar mematikan saraf kedua orang tua ku. Ibu mengalami keguguran.
Laksana awan hitam yang tiba-tiba menganggu ketentraman awan putih dan merusak cerahnya pagi, menghilangkan pelangi dan matahari. 3 bulan kemudian kabar buruk itu benar-benar mematikan saraf kedua orang tua ku. Ibu mengalami keguguran.
Setelah tinggal satu setengah
tahun di Kelud, akhirnya Ayah dan Ibu memilih kembali ke Madiun. “Karena waktu
itu Ayah belum punya uang buat beli rumah, akhirnya kami sementara tinggal di
rumah Yangkung nduk di Madiun, jadi ya gak enak gitu gak bisa bebas” ujar Ibu. “Setelah
itu, Ibu hamil lagi nduk, ya hamil kamu ini, dulu Ayah pengen nya kamu anak
cowok eh gak taunya cewek, mungkin ini nduk yang nyebabin kamu agak tomboy,
haha” Ibu menambahi lagi. Ibu selalu berdoa setiap malam di saat orang-orang
terlelap dalam tidurnya dan di saat orang-orang sibuk dengan pekerjaannya. Ibu
memohon kepada Allah, agar menyelamatkan bayinya yang satu ini.
16
Desember 1995 lahirlah anak bernama Syarifa Widyandari, setelah itu mereka
memutuskan untuk pindah ke rumah Mbauti di Tulungagung sedangkan Ayah pindah
jerja menjadi Staf Bangunan Jack dan Brother di Surabaya hanya selama 3 bulan,
tapi Ibu jadi jarang ketemu Ayah. Lalu Ayah memutuskan untuk pindah ke Bandung tahun
1996-1999 karena Ayah dipindah kerjakan di Bandung, menjadi Developer Bumi
Adipura Bandung Jawa Barat sebagai Pengawas Infrastruktur. Kami tinggal di
rumah budhe Erna di Banfung karena beliau sudah pindah di Bogor.
“Dulu
itu lucu nduk kamu, Ayah sama Ibu udah bingung kamu udah besar tapi masih belum
bisa jalan, tapi pada suatu hari pas Ayah pulang dari kerja, tiba-tiba kamu
berdiri dan lari buanter ke Ayah, loh alhamdulillah haha, gak bisa jalan tapi
langsung bisa lari, setelah itu langsung diselameti sego kuning” ujar Ayah
menerawang.
Karena
bantuan dari pakde Tedjo yang notabene adalah salah satu orang penting di
Perhutani, akhirnya Ayah pindah kerja di Surabaya sebagai Staf Pelaksana Teknik
Bangunan Perum Perhutani Unit 2 mulai tahun 1999-2008.
“Ya kalau bisa dibilang nih nduk,
orang yang paling berjasa dalam hidup Ayah setelah orangtua ya Pakde Tejo sama
budhe Ning ini nduk”
Ayah
dikenal sebagai orang yang jujur di kantornya. Rendah hati, taat beribadah, baik,
pendiam, rajin dan tidak banyak omong. Ayah mbajak antara Bojonegoro-Surabaya
selama 9 tahun dengan menumpangi kereta api Kerta Jaya. Sehingga kami
sekeluarga jarang bisa bertemu Ayah.
Lalu
Ayah mengajukan permohonan untuk dipindah tugaskan di Bojonegoro saja, karena
kegigihan dan keuletannya akhirnya permintaan tersebut dikabulkan oleh atasan. Ayah
pindah kerja di Bojonegoro tahun 2009 sebagai Kaur Umum Kbm Sar Kayu 2 Bojonegoro.
Lalu, di tahun 2011 sampai sekarang Ayah dinaikkan jabatannya menjadi Assman
Sdm dan Umum. Rumah kami yang dulu hanya biasa saja, kini alhamdulillah sedikit
demi sedikit mulai dibangun, apalagi ditambah kehadiran malaikat kecil Ikhlasul
Amal yang lahir pada tanggal 14 September 2006. Keinginan Ayah untuk mempunyai
anak cowok terkabul juga. Meskipun umur Ayah menginjak kepala 5 tapi Ayah
selalu menyempatkan diri bersama keluarga, dan juga adikku, yang biasa
dipanggil Izul. Bermain perang-perangan kek, mengajaknya keliling kota naik
sepeda motor, dan membeli es degan langganan Ayah di depan SMA Negeri 2
Bojonegoro, sekolahku saat ini. Karena kedua orang tuaku bekerja jadi ketika
pagi adik dititipkan di tetangga. Kegiatan Ayah saat ini aselain bekerja adalah
memelihara 6 ayam yang ada di belakang rumah, 2 diantaranya ayam jenis kate.
Ayah adalah yang selalu heboh jika ayamnya sakit, yang selalu memasukkan lombok
ke mulut ayam agar ayamnya cepat sembuh. Selain itu Ayah juga memelihara 3
burung yang sangkarnya dicantolkan di depan rumah, ada burung jalak, trucuk’an
dan benggolo.
Dengan pindahnya Ayah di bojonegoro,
setidaknya, kami sekeluarga bisa selalu berkumpul bersama, seperti ini.
Menurut pandanganku,
meskipun Ayah terlihat agak cuek. Tapi dalam kecuek’an beliau, beliau sangat
perhatian sekali. Ayah adalah orang yang selalu memarahiku jika aku jajan
sembarangan, makan telat dan pulang malam. Ayah adalah orang pertama yang
mendadak dingin kalau ada teman laki-laki ku ke rumah, padahal kan cuma teman, mungkin
Ayah belum rela kalau ada lelaki lain yang nanti akan mengisi hatiku selain
dirinya, hehe. Tapi aku tahu Ayah melakukan itu semua demi kebaikanku.
Terimakasih Allah,
telah kau lahirkan aku untuk keluarga ini. Terimakasih telah kau lahirkan aku
dari rahim ibuku dan telah kau hadirkan lelaki perkasa yang selalu
menyayangiku, Ayah..
Surat Untuk Ayah
Tanganku bergetar ketika menulis ini
Aku berulang kali menelan ludah
ketika kutanyakan perjalanan hidupmu
Aku berulang kali tercengang
mengingat begitu banyaknya pengorbanan yang kau berikan
Berulang kali juga langsung ku usap
air mata agar kau tak melihatku menangis
Maaf kalau aku baru bisa melihat
sekarang
Seumur hidupku rasanya aku tetap tak
mampu untuk membalas semua jasamu
Kau telah memeras semua isi otak dan
tenaga untuk keluarga ini
Berjuta peluh dan kesah telah kau
teriakkan di dalam kesunyian
Tak ingin orang lain mendengar dan
menyadarinya
Aku tak tahu apa lagi yang harus ku lakukan
Maaf kalau sampai saat ini aku masih
belum bisa membahagiakanmu
Maaf kalau selama ini aku belum
menjadi anak yang baik di matamu
Maaf kalau aku benar-benar membuatmu
marah dan berteriak
Aku tahu sebenarnya kau mengelus dada
melihat kelakuan anakmu ini
Tapi apa kau tahu Ayah? Sungguh aku
ingin membahagiakanmu
Sudah ku coba segala cara yang aku
bisa
Tapi mengapa aku masih belum
menggapai senyum itu?
Ayah, maafkan anakmu ini.
Ayah, terimakasih atas semua
pengorbananmu selama ini
Kau tahu? Kau adalah lelaki terbaik
yang pernah kutemui
Ayah, aku ingin agar kelak bisa
membahagiakanmu
Bojonegoro, 24 Januari 2013
Anak yang ingin membahagiakanmu
0 komentar:
Posting Komentar
Mohon apresiasinya :)