Rabu, 17 April 2013

Nama yang pantas untuk lulus hanya Ayah

| |

            Hari itu matahari mulai lelah dan bersiap untuk tidur di singgahsananya, aku memberanikan diri mendekati lelaki itu di ruang tamu, satu-satunya lelaki di dunia ini yang kupercaya tak akan menyakitiku dan menghianatiku, lelaki yang rambutnya mulai memutih, Ayah, tak mau kupanggil Bapak.
            Meja,kursi,lampu,lantai,dinding ,pintu dan jendela ini menjadi saksi bisu pembicaraanku dengan Ayah. Yap, Lulus Widyandoko, lelaki yang selalu kubicarakan tadi. Namanya memang sedikit aneh “Heh dulu nama itu ada asal-usulnya lo nduk..” katanya sambil menerawang ke langit-langit atap rumah, mencoba mengingat masa lalu.
“Dulu mbahkung sama Yangti pengen punya anak laki-laki eh tapi anak pertama malah perempuan, habis itu Yangkung sama Yangti gak nyerah, mereka terus berdoa’a, eh tapi kok anak kedua dan ketiga perempuan lagi. Sempat hampir putus asa, tapi mereka juga tetep berdoa’a tambah rajin sama Allah, eh ya alhamdulillah banget lo nduk, anak yang ke 4 kok ya laki-laki, ya Ayahmu ini. Makanya namanya lulus artinya lulus udah dapat anak laki-laki gitu, hahaha” katanya dengan tawa yang menggelegar. “Setelah Ayah eh malah kebelakang anak lelaki semua nduk, ya om sony sama om wiwit itu, om sony anak ke 5 dan om wiwit anak ke 6” ujar lelaki penyuka warna abu-abu itu.
            Samar-samar suara televisi dari ruang tengah yang sedang ditonton adik dan Ibuku terdengar, meramaikan suasana kala diantara kita kehilangan bahan pembicaraan.
“Selain itu juga nama Widyandoko ada artinya nduk, widya=ilmu, handoko=banteng, jadi kalau digabung ilmu kerakyatan, suka bermasyarakat. Iya to nduk, kan banteng di pancasila artinya apa hayo?” kata lelaki kelahiran Madiun, 13 Januari 1963 itu.
“Rumah Ayah dari lahir sampe SMA ya di situ lo nduk, yang di Madiun itu.. di rumah Yangkung di jalan kapten saputra no 85, Alhamdulillah dulu rumahnya Yangkung gede, jadi muat dipakai 9 orang, haha” ujarnya lagi.
            “Riwayat pendidikan Ayah itu SDN endrakila (1969-1975) SMPN 4 Madiun (1975-1979) SMAN 1 Madiun (1979-1981) setelah itu kuliah S1 di ITN Malang (1983-1990)” kata lelaki berusia 49 tahun itu. Meskipun Ayah sudah menyandang gelar insinyur sekarang, tetapi Ayah mengaku ogah mengikutsertakan gelar itu di depan namanya.
Menginjak SMA kelas XII, Kakak peremuan Ayah, atau lebih tepatnya anak ke-3, Tri Prasetyoningrum, mulai mengenalkan calon suami nya, Tedjo Rumekso, kepada Yangkung. Sedangkan dua kakak perempuan Ayah sudah lebih dulu menikah.
“Jadi dulu itu Ayah akrab sama pakde Tedjo sebelum menikah sama budhe Ning, dulu karena Ayah pengen banget bisa nyupir akhirnya setiap kali pakde Tedjo ngapel ke rumah Yangkung, mobilnya selalu Ayah pake buat belajar, pernah pada suatu hari mobilnya tabrakan ke pohon, peyok kabeh, hahaha” tawanya.
“Untungnya pakdhe Tedjo gak marah nduk, lha nanti kalau beliau marah gak direstuin Ayah dong hubungannya sama budhe Ning, hahaha” ujar lelaki itu sekali lagi dengan tawanya yang khas.
            Setelah lulus SMA sebenarnya Yangkung pengen Ayah jadi dokter, soalnya Ayah anak lelaki yang paling tua jadi harus ngasih contoh yang baik, selain itu juga Yangkung pengen banget ada anaknya yang jadi dokter,  waktu itu Ayah menuruti keinginan Yangkung di Universitas Airlangga jurusan kedokteran. Tapi kenyataannya Ayah tidak lolos tes. Ironisnya karena watak Yangkung yang kemauannya harus bisa diwujudkan dan karena obsesinya yang sudah terlalu tinggi, Ayah dipaksa disuruh les ini itu dan belajar terus setahun penuh buat nanti ikut tes tahun depan. Saat pengumuman tes keluar, ternyata Ayah tak masuk lagi, saat itulah Yangkung sadar kalau memang tempatnya Ayah bukan disitu, dan membebaskan Ayah memilih universitas sesuai keinginan hatinya.
Ayahku yang waktu itu, langsung memilih ITN Malang jurusan Teknik Sipil.
            Ketika Ayah semester 2, budhe Ning dan pakde Tedjo melangsungkan pernikahan, secara sah mereka sudah berstatus suami istri, Ayah senang dengan itu semua. Lalu pakdhe Tedjo lah yang membiayai kuliah Ayah dari semester 3 sampai wisuda.
            Ketika Ayah kuliah di Malang, Ayah ngekos di Jalan Yogyakarta Dalam nomor 7, kos yang berisikan 20 orang laki-laki itu benar-benar sangat ramai. Tapi wanita yang kadang-kadang mampir ke kos nya untuk memberikan makanan atau sekedar berkunjung untuk menemui Pakde Hendro yang notabene adalah mas dari Ibu saya, Lilik Wulandari, kebetulan ibu saat itu juga kuliah di Malang, di IKIP Malang jurusan Matematika. Wanita itu enar-benar menarik perhatian Ayah. Lambat laun Ayah terpikat dengan gadis tersebut dan berniat akan menikahinya kelak di saat Ayah sudah memiliki  pekerjaan. Sebenarnya Ayah waktu itu ingin melakukan pendekatan terlebih dahulu atau lebih tepatnya pacaran sama ibu, tapi karena sungkan sama Pakde Hendro akhirnya Ayah baru berani mengatakan perasaanya seusai lulus kuliah. Lulus kuliah di tahun 1991 sampai 1996 Ayah langsung menyatakan perasaanya dan ditrima oleh ibu, Ayah membelikan sebuah boneka beruang yang sangat besar sekali.
            Cerita cinta Ayah dan Ibu pun dimulai, seusai kuliah Ayah langsung merantau ke Jakarta mengikuti temannya yang sudah sukses. Sedangkan ibu tetap di Malang melanjutkan kuliah, karena ibu belum lulus. Ayah dan ibu melakukan LDR (Long Distance Relationship). Selama 2 minggu Ayah menginap di rumah temannya yang bernama Agus. Tapi lama kelamaan Ayah merasa sungkan karena Pak Agus saat itu sudah berkeluarga. Ayah memutuskan pindah ke rumah temannya yang bernama Harry. Harry yang waktu itu sedang menginap di rumah temannya, akhirnya membiarkan Ayah menginap di perumahan kosong tanpa listrik sendirian selama 2 minggu. Lelaki yang sekarang kupanggil Ayah, waktu itu sedang pontang panting mencari pekerjaan, menginap di dalam rumah kosong tanpa cahaya. Dalam ketakutan Ayah tetap bertahan, setiap waktu tak ubahnya selalu sholat tahajud, memohon kepada Allah setiap malam, berharap doa’nya segera dikabulkan oleh Sang Maha Esa. Aku tak tega membayangkan keadaan Ayah yang seperti itu.
            Dalam keadaan seperti itu Ibu yang selalu menguatkan Ayah, selalu berkirim surat menanyakan kabar atau saling berbagi cerita. Karena saat itu harga HP sangat mahal. “Iya nduk, kalau nggak percaya besok kalau ke rumah nenek tak kasih tau suratnya, walah ada seambrek nduk. Masih ibu simpen. Dulu itu selalu seneng banget pas ada pak pos di depan kos. Sampe sekarang ibu seneng banget sama lagunya Dewa 19 yang judulnya Kangen. Selalu ngingetin ibu sama Ayah” ujar ibu.
            Karena semua itu akan indah pada waktunya, tak disangka setelah perjuangan Ayah yang berliku-liku untuk mencari pekerjaan. Akhirnya Ayah dapat panggilan pekerjaan di CV Jati Kuning sebagai Site Eneering, dan beliau langsung berniat menikah dengan ibu. Pada tanggal 26 Oktober 1994, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Puncak dari segala penantian. Ayah mempersunting ibu.
“Dulu itu pernikahannya dirayakan kecil-kecilan, cuma di depan rumah Mbauti itu lo nduk, yang di Tulungaung, di Jalan Lawu nomor 24 Bolorejo Kecamatan Kauman” Sambung Ibu yang ikut menemani kami di ruang tamu. “Dulu Mbauti sampe bilang ngene nduk ‘Aku heran, sing nyenengi awakmu kok wong meneng-meneng ae ketmbiyen, padahal kamu ki cerewete koyok ngono’ Hahaha justru itu to nduk yang dinamakan pasangan yang serasi. Namanya kita aja udah mirip. Iyo to mas?” kata Ibu sambil melirik genit ke arah Ayah. Aku sontak tertawa, masih saja tingkah mereka seperti ini. “Dulu itu Ayahmu orangnya yang paling baik diantara 7 saudaranya, paling pendiem, gak kakean polah, sholat 5 waktu gak pernah ketinggalan, plus Ayahmu itu lo gak suka kopi sama rokok, benar-benar cowok impian” Aish.. Ibuku ini ternyata memang benar-benar cerewet.
Setelah pernikahan berlangsung Ayah ditugaskan untuk mengerjakan proyek di Kelud, Kediri. Ibu waktu itu ingin mengikuti Ayah, akhirnya setelah menikah Ayah dan Ibu tinggal di daerah Kelud. Lalu kabar gembira pun  datang, Ibu ternyata hamil. Ayah waktu itu langsung mengecup kening ibu mengucapkan terimakasih.
            Laksana awan hitam yang tiba-tiba menganggu ketentraman awan putih dan merusak cerahnya pagi, menghilangkan pelangi dan matahari. 3 bulan kemudian kabar buruk itu benar-benar mematikan saraf kedua orang tua ku. Ibu mengalami keguguran.
Setelah tinggal satu setengah tahun di Kelud, akhirnya Ayah dan Ibu memilih kembali ke Madiun. “Karena waktu itu Ayah belum punya uang buat beli rumah, akhirnya kami sementara tinggal di rumah Yangkung nduk di Madiun, jadi ya gak enak gitu gak bisa bebas” ujar Ibu. “Setelah itu, Ibu hamil lagi nduk, ya hamil kamu ini, dulu Ayah pengen nya kamu anak cowok eh gak taunya cewek, mungkin ini nduk yang nyebabin kamu agak tomboy, haha” Ibu menambahi lagi. Ibu selalu berdoa setiap malam di saat orang-orang terlelap dalam tidurnya dan di saat orang-orang sibuk dengan pekerjaannya. Ibu memohon kepada Allah, agar menyelamatkan bayinya yang satu ini.
            16 Desember 1995 lahirlah anak bernama Syarifa Widyandari, setelah itu mereka memutuskan untuk pindah ke rumah Mbauti di Tulungagung sedangkan Ayah pindah jerja menjadi Staf Bangunan Jack dan Brother di Surabaya hanya selama 3 bulan, tapi Ibu jadi jarang ketemu Ayah. Lalu Ayah memutuskan untuk pindah ke Bandung tahun 1996-1999 karena Ayah dipindah kerjakan di Bandung, menjadi Developer Bumi Adipura Bandung Jawa Barat sebagai Pengawas Infrastruktur. Kami tinggal di rumah budhe Erna di Banfung karena beliau sudah pindah di Bogor.
            “Dulu itu lucu nduk kamu, Ayah sama Ibu udah bingung kamu udah besar tapi masih belum bisa jalan, tapi pada suatu hari pas Ayah pulang dari kerja, tiba-tiba kamu berdiri dan lari buanter ke Ayah, loh alhamdulillah haha, gak bisa jalan tapi langsung bisa lari, setelah itu langsung diselameti sego kuning” ujar Ayah menerawang.
            Karena bantuan dari pakde Tedjo yang notabene adalah salah satu orang penting di Perhutani, akhirnya Ayah pindah kerja di Surabaya sebagai Staf Pelaksana Teknik Bangunan Perum Perhutani Unit 2 mulai tahun 1999-2008.
“Ya kalau bisa dibilang nih nduk, orang yang paling berjasa dalam hidup Ayah setelah orangtua ya Pakde Tejo sama budhe Ning ini nduk”
            Ayah dikenal sebagai orang yang jujur di kantornya. Rendah hati, taat beribadah, baik, pendiam, rajin dan tidak banyak omong. Ayah mbajak antara Bojonegoro-Surabaya selama 9 tahun dengan menumpangi kereta api Kerta Jaya. Sehingga kami sekeluarga jarang bisa bertemu Ayah.
            Lalu Ayah mengajukan permohonan untuk dipindah tugaskan di Bojonegoro saja, karena kegigihan dan keuletannya akhirnya permintaan tersebut dikabulkan oleh atasan. Ayah pindah kerja di Bojonegoro tahun 2009 sebagai Kaur Umum Kbm Sar Kayu 2 Bojonegoro. Lalu, di tahun 2011 sampai sekarang Ayah dinaikkan jabatannya menjadi Assman Sdm dan Umum. Rumah kami yang dulu hanya biasa saja, kini alhamdulillah sedikit demi sedikit mulai dibangun, apalagi ditambah kehadiran malaikat kecil Ikhlasul Amal yang lahir pada tanggal 14 September 2006. Keinginan Ayah untuk mempunyai anak cowok terkabul juga. Meskipun umur Ayah menginjak kepala 5 tapi Ayah selalu menyempatkan diri bersama keluarga, dan juga adikku, yang biasa dipanggil Izul. Bermain perang-perangan kek, mengajaknya keliling kota naik sepeda motor, dan membeli es degan langganan Ayah di depan SMA Negeri 2 Bojonegoro, sekolahku saat ini. Karena kedua orang tuaku bekerja jadi ketika pagi adik dititipkan di tetangga. Kegiatan Ayah saat ini aselain bekerja adalah memelihara 6 ayam yang ada di belakang rumah, 2 diantaranya ayam jenis kate. Ayah adalah yang selalu heboh jika ayamnya sakit, yang selalu memasukkan lombok ke mulut ayam agar ayamnya cepat sembuh. Selain itu Ayah juga memelihara 3 burung yang sangkarnya dicantolkan di depan rumah, ada burung jalak, trucuk’an dan benggolo.
Dengan pindahnya Ayah di bojonegoro, setidaknya, kami sekeluarga bisa selalu berkumpul bersama, seperti ini.
Menurut pandanganku, meskipun Ayah terlihat agak cuek. Tapi dalam kecuek’an beliau, beliau sangat perhatian sekali. Ayah adalah orang yang selalu memarahiku jika aku jajan sembarangan, makan telat dan pulang malam. Ayah adalah orang pertama yang mendadak dingin kalau ada teman laki-laki ku ke rumah, padahal kan cuma teman, mungkin Ayah belum rela kalau ada lelaki lain yang nanti akan mengisi hatiku selain dirinya, hehe. Tapi aku tahu Ayah melakukan itu semua demi kebaikanku.
Terimakasih Allah, telah kau lahirkan aku untuk keluarga ini. Terimakasih telah kau lahirkan aku dari rahim ibuku dan telah kau hadirkan lelaki perkasa yang selalu menyayangiku, Ayah..



Surat Untuk Ayah


Tanganku bergetar ketika menulis ini
Aku berulang kali menelan ludah ketika kutanyakan perjalanan hidupmu
Aku berulang kali tercengang mengingat begitu banyaknya pengorbanan yang kau berikan
Berulang kali juga langsung ku usap air mata agar kau tak melihatku menangis
Maaf kalau aku baru bisa melihat sekarang

Seumur hidupku rasanya aku tetap tak mampu untuk membalas semua jasamu
Kau telah memeras semua isi otak dan tenaga untuk keluarga ini
Berjuta peluh dan kesah telah kau teriakkan di dalam kesunyian
Tak ingin orang lain mendengar dan menyadarinya

Aku tak tahu apa lagi yang harus ku lakukan
Maaf kalau sampai saat ini aku masih belum bisa membahagiakanmu
Maaf kalau selama ini aku belum menjadi anak yang baik di matamu
Maaf kalau aku benar-benar membuatmu marah dan berteriak

Aku tahu sebenarnya kau mengelus dada melihat kelakuan anakmu ini
Tapi apa kau tahu Ayah? Sungguh aku ingin membahagiakanmu
Sudah ku coba segala cara yang aku bisa
Tapi mengapa aku masih belum menggapai senyum itu?

Ayah, maafkan anakmu ini.
Ayah, terimakasih atas semua pengorbananmu selama ini
Kau tahu? Kau adalah lelaki terbaik yang pernah kutemui
Ayah, aku ingin agar kelak bisa membahagiakanmu


Bojonegoro, 24 Januari 2013
Anak yang ingin membahagiakanmu

0 komentar:

top

Posting Komentar

Mohon apresiasinya :)

Game

Starry Sun

Kamu Pembaca Ke

What Time Is It ?

Labels

Followers