Pandanganku tak lepas memandangnya. Gadis yang mampu menyita seluruh
hati dan pikiranku, Aya. Wanita cantik yang tinggal tepat di depan rumahku.
Kalau biasanya lelaki usia sepertiku menghabiskan waktu dengan keluar bersama
teman-temannya sampai larut malam, aku memilih untuk tetap tinggal di rumah dan
melihatnya di balik kaca jendela.
Seperti sekarang, aku sedang
memandangi setiap lekuk wajahnya dan badannya. Seperti biasa, kalau sore
seperti ini dia selalu duduk di jembatan rumah dan membaca novel, setelah aku
tahu apa judul yang dia baca, aku sesegera mungkin saat itu juga mencari novel
itu dan membacanya. Aku akan melakukan apa yang semua di lakukannya, apa yang
dia suka akan ku sukai, apa yang dia benci akan ku benci juga.
Wanita itu entah bagaimana
caranya, sejak pertama aku pindah ke rumah ini, saat aku dan keluargaku
mengunjungi rumahnya dan membawa bingkisan untuk sekedar adat sopan santun
sebagai semestinya tetangga baru. Dia yang saat itu sedang menyiram bunga mawar
yang ada di tamannya. Seketika itu juga aku merasa ada sesuatu yang amat
dahsyat di dalam diriku, entah apa, sesuatu yang tak pernah kurasakan
sebelumnya. Aku percaya dia lah tulang rusukku. Aku percaya dia lah bidadari
Tuhan yang dikirimkan untuk menemaniku di dunia dan di surga.
Sudah 7 tahun aku melakukan
kegiatan seperti ini, sejak aku berumur 10 tahun, sejak pertama kali aku pindah
di sini, melihatnya secara sembunyi-sembunyi di balik kaca jendela. Aku tak
berani mengatakan padanya tentang rasaku,selama 7 tahun ini aku hanya sedang
menunggu waktu yang tepat.
Tak ada kegiatan yang
menyenangkan selain ini. Aku juga tak suka keluar dan tak pandai bersosialisasi,
aku keluar hanya untuk sekolah. Orang tua ku sudah bercerai sejak aku berumur 6
tahun, aku ikut Ayahku karena ibuku setelah cerai langsung menikah dengan
lelaki lain. Ayah ku sangat keras dan dia memilih untuk menyendiri, sampai pada
suatu hari dia ingin menikah. Tapi setelah menikahi wanita itu, wanita itu tak
mau tinggal di rumah ini. Akhirnya Ayah pergi ke rumah wanita itu dan dua
anaknya yang sedang kuliah di UI. Sedangkan aku di tinggalkan di sini bersama
bibi. Katanya wajahku hanya mengingatkan tentang keburukan ibu, dan wanitanya
itu tak mau menerimaku sebagai anaknya. Sungguh tragis, Ayahku lebih memilih
wanita itu. Akhirnya aku di besarkan oleh bibi sejak Ayah pergi.
Memandang wajah wanita itu
membuatku melupakan segala kesedihan di kehidupaku. Saat aku merasakan kesepian
yang luar biasa atau aku merasa tak ada lagi yang meyayangiku di dunia ini, aku
keluar rumah dan selalu mendapati dia di depan rumah, entah sedang membaca
novel, melihat senja, ataupun menyirami bunga-bunga di taman.
Hari ini adalah hari pertama aku
mengikuti UNAS, begitupun dia. Sekolah kita kebetulan sama dari dulu. Kebetulan(lagi)
kita selalu bersamaan keluar dari rumah untuk berangkat ke sekolah, dia
menyapaku, menyebut namaku, tak ada yang lebih indah dari suaranya, “Pagi
Rangga..”Dan seperti biasa aku hanya membalasnya dengan senyuman, tak mampu
membalas sapaan atau sekedar melakukan perbincangan sedikit. Lihatlah, tanganku
sudah gemetar. Tunggu dulu, tentu saja tak pernah ada kebetulan di dunia ini,
aku memang sengaja mengikutinya, sekolah yang sama dan berangkat tepat di mana
dia juga berangkat, aku hafal seluruh kegiatannya. Dia matahariku.
Sudah kuputuskan, setelah UNAS
berakhir dan aku lulus, aku akan mengutarakan semua rasa ini. Aku ingin segera
tunangan dengannya. Sampai pada suatu hari aku sudah mempunyai pekerjaan, aku
akan menikahinya. Dia lah penyemangatku selama ini, setelah semua kehidupanku
hancur. Sudah lelah aku diam-diam mengaguminya seperti ini.
***
Hari yang kutunggu telah tiba,
aku sudah membeli seikat bunga, dengan 13 bunga mawar di dalamnya, aku sudah
membelikan novel yang sedang di carinya dan aku sudah merangkai kata-kataku.
Segera aku langsung keluar rumah dan berjalan menuju rumahnya. Tapi langkahku
terhenti, dia.. yang setahuku baru pertama kali ini, mebawa lelaki ke rumahnya.
Mungkin lelaki itu cinta pertamanya yang sering di sebut-sebut orang, alasan mengapa
dia tak pernah membawa lelaki manapun, oh ternyata karena menunggu datangnya
lelaki ini yang saat itu sedang menyelesaikan kuliahnya di Australia.
Aku melihatnya tertawa begitu
lepasnya baru kali ini, melihat matanya menyipit ketika tertawa, memperlihatkan
deretan giginya yang putih, andai yang di sampingnya itu aku.
Tentu saja jika di banding dia
aku tak ada apa-apanya. Pemandangan ini begitu merusak otak dan hatiku,
membuatnya mematikan saraf motorik yang membuatku tak mampu bergerak, tak mapu bergerak
untuk segera pergi dari sana dan melupakannya. Aku terus memandanginya. Sampai
ketika lelaki itu mengeluarkan cincin dan berlutut di depan dia. Lalu dia
tersenyum dan mengangguk, lelaki itu langsung memakainya di tangannya.
Aku sakit, air mata akhirnya
turun dari mataku. Sejak lahir aku tak pernah menangis dan tak tahu bagaimana
cara kerja mata untuk mengeluarkan air. Aku juga tak menangis ketika orang tua
ku meninggalkanku. Ku genggam novel dan bunga itu, akhirnya saraf motorikku
mulai bekerja, kakkiku sudah bisa di gerakkan, langsung aku berlari ke rumah,
masuk kamar dan kukunci pintu kamarku. Kali ini saja kumohon, biarkan aku
melepaskan semua kepedihan yang aku tahan selama ini. Semuanya.. biarkan kali
ini aku rapuh.
***
Hari itu sudah berlalu, besoknya
aku memilih untuk mengikuti dia, kemanapun. Itu sudah janjiku, meskipun dia
sudah menikah nanti aku tak peduli, aku ingin setiap hari melihat wajahnya.
Hari ini aku ingin memberikan makanan kesukaanya yang aku masak sendiri. Aku
melihatnya masih di depan rumah, tapi dia terlihat sedang telepon menggunakan
ponselnya, tak seperti biasanya. Pasti lelaki tadi malam yang menelpon. Aku tak
peduli lagi, aku terus berjalan ke rumahnya meskipun pandangan mataku nanar.
“BLAMMM” gelap
***
Aku lumpuh selamanya. Hari itu
aku berjalan ke rumahnya tanpa melihat jalan. Aku tertabrak mobil. Aku bingung,
bukan karena lumpuh tapi tentang bagaimana aku tak bisa mengikutinya lagi, tak
bisa melihatnya lagi. Apa lagi bibi yang merawatku baru meninggal tepat hari
ini. Aku benar-benar kecewa, aku ingin bunuh diri.
Pisau untuk mengupas apel yang
ada di dekat kasur rumah sakit ini, langsung ku ambil, bersiap untuk menggiris
nadi di tanganku. Sudah berdarah, yah sedikit lagi pasti putus dan aku mati.
Tapi aku menghentikannya, berfikir lagi dan membatalkannya. Darah itu terlanjur
keluar deras, aku pingsan.
***
Beginilah kehidupanku pada
akhirnya, yang tetangga ketahui adalah aku pindah bersama Ayahku dan hidup
bahagia. Karena Ayahku yang pada hari aku tertabrak dia segera meminta maaf
padaku dan ingin mengajakku ke rumahnya, tapi aku menolak. Aku akan selamanya
disini, selamanya bersembunyi di rumah ini, melihat gadis itu entah berapa
tahun sekali. Aku menghentikan pisau itu karena memikirkan dia, walaupun dia
sudah menikah dan mempunyai anak lalu tidak tinggal di rumah itu lagi,
setidaknya dia akan berkunjung ke rumah itu, karena rumah itu adalah rumah
orang tuanya. Aku tersenyum, sudah ku bilang kan dia matahariku dan aku tak
akan mampu kehilangannya dan menggantinya dengan matahari lain. Aku akan terus
melihatnya di balik kaca jendela, diam-diam seperti ini. Aku akan terus
menyimpan 13 mawar dan novel ini. Aku hanya tak tahu bagaimana caranya
melepaskan seseorang.

0 komentar:
Posting Komentar
Mohon apresiasinya :)