Rabu, 17 April 2013

Lie

| | 0 komentar

LIE
“Love just come to me as a lie. Then the lie becomes love”
-Syarifa W


            Mereka berempat terdiam membisu, memandangi jalanan kota Jakarta yang kian mencekam, jam menunjukkan tepat pukul tengah malam. Sebenarnya sesuatu yang didalam sini jauh lebih mencekam, ya disini, di hati mereka.

“Lalu apa yang loe lakuin pada bayi itu, hah?!” kata Cakra dengan suara yang tinggi.

“I’m sorry firend, tapi gue udah nggugurinnya” jawab Lindsay sambil menunduk.

 “Gimana loe bisa ngandung anak dari Keenan? Loe tahu kan kalau gue sangat menyukai Keenan, Lin! Ngapain loe tega ngancurin persahabatan kita?” Maura emosi.

 “Sudahlah yang penting kan sudah digugurkan jadi orang-orang tak akan tahu kalau dia hamil” kata Fay pada akhirnya, yang dari tadi hanya sebagai pendengar.

“Fay!!” seru mereka kompak sambil menoleh ke arah Fay.

“Ok ok fine terserah kalian sajalah” kata Fay cuek.

“Sudah kubilang jangan pernah percaya pada laki-laki” Cakra bersuara, kembali ke topik awal.

            Mereka berempat sudah mulai bersahabat sejak kelas 7 SMP. Lindsay Louis adalah anak terpopuler di sekolah, dia adalah putri dari seorang pengusaha kaya Max Louis dari Jerman dan ibunya Arum Prasbawati dari Solo. Tentu bisa dibayangkan wajahnya yang perpaduan wajah barat Jerman dicampur dengan wajah manis dan perilaku serba anggun khas orang Solo. Dia selalu bisa menaklukan hati pria manapun, maka dari itu dia sampai sekarang tidak pernah merasakan apa makna cinta yang sesungguhnya.
            Cakra Kharisa, kehidupannya benar-benar mengharukan. Ayah, ibu dan adiknya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan mobil, dan sekarang dia tinggal bersama neneknya. Cakra adalah cewek tomboy dengan rambut, perilaku dan cara berpakaian yang menyerupai cowok. Sekarang namanya berubah menjadi Cakra Kharisma. Dulu dia tidak seperti itu, dia berambut hitam panjang dan selalu bersikap anggun. Tapi semenjak dia memergoki pacar pertamanya yang menemaninya selama 2tahun, sedang tidur di hotel dengan wanita lain, dia benar-benar membenci seorang cowok dan bersumpah tidak akan menikah seumur hidupnya. Tapi jangan takut, dia tidak akan menyukai sesama jenis. Sehingga persahabatan ini tak mungkin ternodai.
Maura  Lestari adalah anak broken home dan dia benar-benar anak yang lemah. Nyaris hampir setiap upacara Senin di sekolah dia pingsan. Mempunyai beberapa penyakit kompleks yang sampai sekarang masih tidak mau menceritakannya. Selalu tersenyum untuk menutupi apa yang di dalam hatinya.
            Sedangkan Fai. Hanya nama Fai, Fai tidak punya nama panjang. Selalu berekspresi datar dan tidak peduli dengan cowok ataupun dandan apalagi shopping. Selalu tampil apa adanya. Me just how beautifull me.
            Semenjak kedatangan Keenan ke sekolah mereka, Keenan benar-benar telah membuat heboh warga seantero sekolah. Hidungnya yang mancung, matanya yang biru, kulitnya yang putih bersih tanpa noda, badannya yang tinggi jangkung dan rambut hitamnya yang lebat benar-benar menarik perhatian. Lindsay, yang dari SMP sampai SMA selalu menjabat wanita terpopuler, benar-benar ingin mendapatkannya.

“Gue bener-bener sakit hati sama Keenan, Ngapain sih dia nggak mau tanggung jawab sama gue, apa dia nggak mau di drop out dari sekolah? Dasar bodoh! Meskipun dia gak lulus SMA dia akan bahagia hidup sama gue, harta bokap gak akan habis sampai tujuh turunan” Lindsay berbicara seakan tanpa- dosa.

“TUTUP MULUTMU LIN! DASAR MURAHAN!” kata Maura sambil mengangkat tangannya yang mau menampar Lindsay.

“Hentikan teman! Jangan sampai persahabatan kita rusak cuma gara-gara cowok sialan itu” kata Cakra sambil menahan tangan Maura yang untungnya berhasil.

“Loe gak pernah bertindak sebodoh ini sebelumnya Lindsay, kenapa loe terlalu bodoh sekarang?” Kata Cakra sambil memegang Maura kuat, berusaha menahannya agar tidak terjadi kejadian yang lebih parah.

“Itu karena gue begitu mencintaiiiinyaaaa” kata Lindsay dengan suara menggoda.

Maura sangat emosi dan akhirnya bisa melepaskan pegangan Cakra,
“Gue bener-bener marah, sangat marah” kata Maura sebelum dia meninggalkan mereka. Baru kali ini mereka melihat Maura marah.

“Gue juga akan pergi” kata Lindsay pada akhirnya.

“Gue gak percaya sama semua ini” Cakra angkat bicara.
“Mengapa persahabatan kita selama 5 tahun bisa pecah karena cowok itu”

“Mereka mungkin hanya emosi sesaat, nanti juga bakal baikan sendiri”

“Fay..” kata Cakra sambil memandang Fay.

“Apa Cak?”

“Apa gue boleh minta bantuan loe Fay? Bisa gak loe naklukin cowok itu , lalu setelah loe berhasil, loe campakkan dia secara hina, pacaran selama 3 bulan, lalu campakin. Understand?”

 “Kenapa harus gue gitu?”

“Karena loe sebenarnya cantik Fay, tinggal poles dikit, apa loe tega nyuruh gue yang ngejalanin misi ini? Impossible kan Fay, gak lucu juga” kata Cakra sambil berpose sok imut kayak cewek, yang menurut Fay itu benar-benar membuat perutnya ingin mual.

“Haha, sorry Cak, tapi gue dari dulu bener-bener males berurusan sama cowok Cak, loe tau sendiri kan”

“Tapi Fay please gue mohon... Ntar biar mereka balik lagi, gue bakal ngomong ke mereka, pasti bakal seneng banget.”

“Apa imbalannya?”

Cakra tertegun tapi akhirnya tersenyum, “Apapun yang loe minta Fay”

“Gue mau uang Cak, gak akan muna lagi deh, gue lagi butuh”

“Ok Fay loe minta berapa?”

“10 juta aja deh”

“Ok deal”

“Deal”

***
            Fay sangat bersemangat untuk menggoda si Keenan. Dia sudah mempersiapkan semuanya, sekitar sebulanan untuk pergi ke salon dan melakukan perombakan ini itu.
‘Kurasa gue bener-bener cantik ya, gak salah omongan si Cakra tuh’ Fay tersenyum dihadapan wastafel cermin toilet sekolah.
Rambut Fay yang telah Fay sambung menjadi panjang, wajah Fay yang di beri bedak supermahal sehingga kelihatan putih, alisnya yang dirapikan, bulu mata yang ditambah agar semakin lentik, softlens coklat yang menghiasi matanya dan rombakan seragam sekolah yang benar-benar wow
            Berbekal dengan lihat film drama-drama Korea, dia mulai menggunakan trik-trik yang ada di film tersebut. Dia menghampiri Keenan sepulang sekolah, mengempesi ban motornya, dan yap! Tepat seperti yang dia inginkan, Keenan menghampirinya.

“Fay, ban motor lo bocor ya?”

Fay tertegun
‘Kapan gue sempet kenalan? Kayaknya belum deh, lalu darimana Keenan tahu nama gue? Gue kan sama sekali gak terkenal di sekolah. Ah dasar cowok kurang ajar! Trik nya untuk ngebuat cewek jadi gr pinter banget sih’ umpat Fay dalam hati

“Iya, tolong anterin gue pulang dong”

“Ok Fay!” katanya sambil tersenyum

‘Senyum itu bener-bener bikin meleleh, tulus banget kayaknya, dasar! Benar-benar akting yang sempurna’
***
            Semenjak kejadian itu Fay dan Keenan menjadi benar-benar dekat, di luar dugaan, Keenan langsung nembak Fay. Apa yang Fay lakukan? Ya langsung menerima lah, lebih cepat lebih baik.
            Apapun yang dilakukan oleh Keenan, Fay tak peduli. Di sms dia selalu cuek, itupun kalau Keenan lagi beruntung, biasanya malah sms pun tak pernah di balas. Di telepon? selalu Fay reject. Fay selalu punya beribu alasan untuk menghindari Keenan, karena dia sebenarnya juga jijik sama cowok. Tapi anehnya, Keenan tak pernah sedikitpun mengeluh tentang hal ini. Bahkan Keenan selalu ke kelas Fay hanya untuk meyakinkan kalau Fay baik-baik saja.

‘Aku tak akan termakan akting busukmu Keenan, lihat saja kau akan masuk ke dalam permainanku’

Cakra telah memberi kabar bahagia ini kepada kedua temannya, Lindsay dan Maura, dan mereka berangsur membaik karena tujuan mereka sekarang sebenarnya sama, ingin menghancurkan Keenan. Sekarang persahabatan mereka mulai menyatu lagi dan mereka selalu memberi semangat kepada Fay. Dan bayaran Fay akan bertambah menjadi 30 juta.

Malam minggu telah tiba dan tak kerasa tepat 1 bulan mereka jadian, Keenan mengajak Fay untuk makan malam di restoran seafood favoritnya di daerah Menteng. Ketika Fay sedang menikmati makanannya Keenan permisi untuk ke toilet. HP Fay berbunyi dan dia segera mengangkatnya

“Cakra... Ya gue baik-baik saja disini... hah apa loe udah gila? Gue ingin segera mengakhiri permainan ini, ini benar-benar ngebuat gue muntah... hahaha tak apalah yang penting 30 juta menjadi milik gue... okok 2 bulan lagi kan?.... hahaha jangan pura-pura tidak tahu, 3 bulan untuk 30 juta bersama Keenan setelah itu kita campakkan dia.. Apa? Gue jatuh cinta beneran sama Keenan? Hahaha jangan bercanda! Itu tidak akan terjadi....hahaha”

Fay segera menutup HP nya dan dia melihat kebelakang, Keenan sudah berdiri di belakangnya, tersenyum tulus seperti biasanya. Akting yang bagus, pikir Fay.

“Sejak kapan kau berada di situ?” Fay bertanya.

“Baru saja honey” katanya.

“Tuan...” tiba-tiba pelayan datang menghampiri Keenan.
“Apa mobil honda jazz merah berplat S 1612 D milik anda?”

“Iya benar, ada apa mbak?”

“Maaf Tuan tadi ada pengendara yang sedang mabuk dan dia tidak sengaja menabrak mobil tuan dan membuat kerusakan” kata pelayan itu.

Keenan yang seketika itu juga langsung keluar dan melihat mobilnya, Fay mau tak mau harus mengikuti.
Ternyata terdapat goresan-goresan yang menghiasi bagian kanan mobilnya dan itu lumayan banyak.

“Oh no..” Keenan langsung menghampiri mobilnya dan memeriksa segalanya.

“Keenan sudahlah biar diurus nanti saja, ayo kita kembali makan, aku udah laper nih” Fay menggerutu.

“Tidak bisa honey, aku harus ngelihat semuanya dulu dan memastikan semuanya baik-baik saja”

“Dasar cowok dimana-mana tuh sama aja, selalu mentingin kendaraan mereka daripada pacar mereka, sudahlah aku mau kembali makan dulu”

Fay untuk pertama kalinya benar-benar merasa marah dengannya. Ada apa dengannya? Seharusnya dia bersikap cuek seperti biasa. Apa karena Keenan yang selama ini selalu menjadikan Fay yang utama?

Fay kembali untuk menikmati makanannya sendirian.

“BRAKKKK”

Terdengar suara keras di luar, para pelanggan segera keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Disana, Keenan mengalami kecelakaan, mobilnya menabrak pohon besar. Fay benar-benar panik dan dia segera berlari sekuat tenaga.

“Keenan Keenan apa yang loe lakuin sih? Apa loe baik-baik aja? Keenan..” katanya panik.

Keenan berhasil dikeluarkan dari mobilnya, Dahinya mengeluarkan darah yang amat banyak, sedangkan mobilnya sudah hancur.

“Aku hanya ingin membuktikan padamu sayang, kau jauh lebih berharga dari apapun di dunia ini, dan selamaya akan selalu jadi yang utama, Fay” Keenan tersenyum, berbisik kepada Fay sebelum orang-orang membawanya ke rumah sakit. Fay speechless, dia benar-benar tak percaya apa yang dia dengarkan. Apakah ini hanya akting? Lalu mobil satu-satunya kesayangannya yang sekarang sudah tak berbentuk itu apa akting? Keyakinan Fay mulai tergoyah.

***

Mereka berempat kumpul di cafe favorit mereka seperti biasa,
“Teman, masak iya sih kelakuan Keenan sekurang ajar itu? Kok selama ini dia baik-baik aja ya sama gue” kata Fay

“Jangan termakan bujuk rayunya dasar bodoh, setelah itu dia akan minta loe tidur dengannya and loe tak kuasa menolak karena tipu daya aktingnya selama ini, dan loe akan menderita seperti gue, bodoh. Apa kau sudah pernah kiss dengannya?” Lindsay menimpali.

“Dia tidak berani nyentuh gue sedikitpun..”

“Hah yang benar saja? Cowok mesum seperti dia bersikap seperti itu? Ah mungkin beberapa hari lagi dia sudah tak tahan” Maura bersuara.

“Tenang saja kalian tak ingat siapa gue? Gue ini gini-gini juara 1 lomba karate se-provinsi. Ingat gak? Jadi kalau dia mau macem-macem sama gue ya gue sikat” kata Fay sambil mempraktekan gerakan karate.

“Hahaha sudahlah Fay, yang penting uang 30 juta sebentar lagi jadi milik loe” Cakra bersuara.
“Gue gak nyangka loe dulu yang gak pernah ngomongin cowok tau-tau pacar pertamanya eh ternyata si ganteng Keenan, hebat banget ya loe?hahaha”

***

Kini hanya tersisa satu hari sebelum tepat 3 bulan. Entah mengapa seakan Fay tidak mengharapkan uang 30 juta itu lagi dan seakan lupa akan permainannya bersama keempat sahabatnya. Apa dia benar-benar masuk dan malah terjebak di permainan Keenan? Dia sebenarnya juga tak tahu. Tapi Fay benar-benar selalu dimanjakan oleh Keenan. Semua siswa di sekolah ada yang pro dan kontra tentang pasangan ini. Fay juga merasa ada yang ingin dia ketahui, sesuatu yang dia tidak tahu apa. Hanya ingin tahu kebenaran perasaan Keenan yang sebenarnya. Tapi dia benar-benar harus mengakhiri hubungan ini besok, dia benar-benar tak sanggup membayangkannya. Keyakinan kalau Lindsay telah dihamili oleh Keenan lah yang a=akan terus menguatkan niatnya.

***

Fay mengajak Keenan untuk makan di restoran favorit mereka seperti biasa. Hari ini entah mengapa dia benar-benar merasa sakit, senyum Keenan, wajah Keenan, semua perilaku Keenan kepadanya, akan menghilang setelah hari ini. Dia tiba-tiba merasa tak mau kehilangan,

Gue mencintainya, kurasa, bukan jatuh cinta tapi gue benar-benar mencintainya. Gue kalah, gue kalah dalam permainan gue sendiri, memalukanm dan gue terjebak ke dalam permainan Keenan. Sosoknya benar-benar ngebuat gue mencintainya. Tapi bagaimana dengan Lindsay? Dia sudah dicampakkan begitu saja oleh Keenan, tapi kenapa gue bahkan tidak pernah disentuh olehnya sampai saat ini? Ada yang aneh kurasa... tapi bagaimana dengan persahabatan kami? Ah ini benar-benar ngebuat gue frustasi’ hati Fay menjerit.

Teman-teman Fay sudah menunggu dengan bahagia di sebuah cafe mereka dan benar-benar ingin merayakan hari kemenangannya.

Keenan datang dan segera duduk di depan Fay.

“Ingin pesan apa honey?”

“Minuman saja aku lagi gak mood makan nih” jawab Fay asal-asalan.

“Yaudah deh... kita mau ngomongin apa nih? Katanya serius..” Kata Keenan sambil tersenyum, senyuman yang benar-benar akan hilang dari hidup Fay beberapa menit lagi.

“Aku mau kita.....” Fay tak sanggup melakukannya.

“Aku tau kamu mau bicara apa Fay” Keenan berubah dingin.

“Aku mendengar percakapan kamu di telepon waktu kita makan di sini 2 bulan yang lalu sewaktu merayakan satu bulan kita” Raut wajah Keenan berubah.

“Hah?” Fay melotot.

“Aku mendengarnya tapi pura-pura tak mendengar, aku bahkan benar-benar berusaha semaksimal mungkin untuk lebih menyayangimu setelah tau semuanya, berharap kamu akan berubah pikiran, tapi ternyata aku salah, aku hanyalah alat yang kau gunakan untuk mendapatkan uang 30 juta.” Keenan berkata lurus menatap mata Fay.

“Kau jangan sekenanya langsung menuduhku seperti itu, jangan pura-pura sok kamu yang paling tersakiti di sini. Inget apa yang kamu lakuin sama temenku, Lindsay? Dasar muna!” Fay tak sanggup lagi, dia meneteskan air matanya.

“Lindsay siapa?”

“Oh My God, Lindsay Louis, anak terpopuler di sekolah, jangan pura-pura sok tak tahu, kau sudah menidurinya dan menghamilinya, kamu tak mau bertanggung jawab sehingga dia harus menggugurkan kandungannya, kau benar-benar cowok yang paling aku benci di dunia ini”

“Tunggu tunggu, kau salah paham Fay, oh jadi Lindsay yang menyuruhmu, kurasa aku tahu alasannya kenapa”

“Kau jangan sekali-kali berani berbohong kepadaku Keenan”

“Aku bersumpah, aku tidak pernah meniduri cewek manapun apalagi menghamilinya. Kalau masalah Lindsay, dia itu dulu ngejar-ngejar aku tapi aku tak suka dengannya, sama sekali tak tertarik” Keenan melanjutkan.
“Aku menyukaimu dari awal, sebelum kau merubah penampilanmu menjadi sekrang, aku sudah menyukaimu dari awal pertama Fay, aku tidak pernah merasakan perasaan terdahsyat ini sebelumnya”

“Sudah sudah aku tidak mau mendengarnya!” Fay frustasi sambil menutup kupingnya.

“Antar aku menemui mereka Fay, dan kau akan tahu mana yang benar dan mana yang salah” Keenan menggandeng tangan Fay, lalu segera menghentikan taxi dan menuju ke cafe.

***

“Hay Fay.. ini uang 30 jutamu, selamat!” Lindsay berseru senang, tapi dia segera menutup mulutnya begitu tahu siapa yang ada di belakang, “Keenan...”
Cakra dan Maura tak kalah terkejutnya.

“Jelasin semuanya sama gue Lindsay, apa yang terjadi sebenarnya” kata Fay dengan wajah yang serius.

“Apaan sih maksud loe gak ngerti” Lindsay gugup

“Loe gak pernah hamil kan sebelumnya, itu cuma cerita karangan loe doang kan”

“Loe ngomongin apa sih Fay” Cakra ikut bergabung ke pembicaraan.

“Jawab Lin!” Fay berteriak, menakutkan.

“Maafin gue..”
“Gue adalah cewek terpopuler di sekolah dari SMP sampai sekarang dan kecantikan gue gak ada yang ngalahin, tapi kenapa gue gak bisa ngedapetin orang yang gue suka, Keenan, akhirnya gue ngarang cerita itu, itu karena gue benar-benar sakit hati. Waktu dia ngantar gue pulang, yang diomongin tuh selalu.. loe temennya Fay ya? Fay itu gimana sih anaknya? Fay Fay dan Fay, sedangkan penampilan loe tuh gak banget Fay! Dibanding gue ya jauh. Gue dendam lalu berpikir, asik kali ya nyakitin Keenan dengan seseorang yang begitu dia sukai”

Fay tak habis pikir, bagaimana mungkin Lindsay, sahabatnya dari SMP bisa berpikiran seperti itu,

“Bukannya yang memberi ide itu Cakra?” Fay masih berusaha tegar meskipun genangan air diamatanya sebentar lagi jatuh.

“Oh jadi loe udah tau semua rencana ini Cak?”
Cakra terdiam.

“Lalu kamu Maura? Juga udah tau rencana ini?”
Maura pun terdiam.

“Gue gak nyangka Ra, seorang Maura juga berpikir seperti itu, alasan loe apa?”

“Karena gue sangat menyukai Keenan”

“Maafin kita Fay..” Carla angkat bicara.

“Oh jadi kejadian yang kemarin itu cuma akting kalian bertiga, bagus banget sih, kalian pantes tuh dapet piala oscar”

“Hahaha oke disini gue bener-bener kelihatan bodoh banget, dipermainin oleh para sahabat gue, yang gue percaya, sahabat gue dari SMP, semuanya hancur cuma masalah kecil ini doang, gue bener-bener ngerasa dibohongin, gak habis pikir, maaf mulai sekarang jangan anggap aku lagi sebagai sahabat kalian”

“Keenan...” Fay mendekat pada Keenan

“Bulan depan kita tunangan, aku ingin kelak menjadikan kamu pendampingku yang selalu menemani hidupku untuk selamanya” kata Fay lalu mengecup bibir Keenan lembut.

Keenan terkejut, tapi dia luar biasa senang. Sedangkan ketiga sahabatnya benar-benar kepanasan.

“Kalian gak akan pernah gue lupain, sekarang kalian masih SMA dan pemikiran kalian benar-benar anak kecil, aku percaya kelak ketika kita semua sudah dewasa, gue harap sifat jelek itu akan hialng, sebenarnya gue sayang banget sama kalian” kata Fay sambil meneteskan air mata, lalu menngandeng tangan Keenan dan berjalan mantap keluar.

SELESAI
Read more...

Dongeng Di Balik Bukit

| | 0 komentar

Gadis kecil itu tersenyum ramah
Mata beningnya menari-nari
Meski tulang patah dan otot copot
Memandang senyummya yang tulus mata hatiku terbuka

            Kami -murid ekstra jurnalistik- melakukan kegiatan supercamp untuk mengisi liburan. Melihat anak di luar sana sedang berlibur di kota-kota dan menghabiskan uang mereka, kami memilih untuk ke sini, di kecamatan Gondang, butuh waktu kurang lebih satu jam dari Bojonegoro.
            Aku berangkat bersama empat temanku lainnya, Arum, Nisa,Oliv dan Rosida. Aku di bonceng oleh Arum menggunakan sepeda motornya, sedangkan Nisa berboncengan dengan Rosida, Oliv dengan Pak Prawoto -guru ekstra jurnalistik kami-
            Hutan, jalan yang menikung dan jalanan yang rusak pun kita santap tanpa ampun. Kami berdo'a dengan sungguh-sungguh agar selalu diberi keselamatan untuk mencapai tujuan.
            Matahari masih berjalan untuk sepenuhnya berada di tengah, kira-kira sebelas siang aku sampai di sini. Sejenak kulepas lelah, mengayun-ngayunkan kaki dan melakukan senam kecil sebentar. SMPN 2 GONDANG kami sampai..
            Kami mampir di warung depan sekolah untuk membeli mie, mie lengkap dengan sayuran dengan harga Rp 2000,-. Harga tersebut tergolong murah bila dibandingkan di Bojonegoro. Pertama kali yang aku suka dari tempat ini adalah : harga makanan yang jauh lebih murah
            Setelah itu kami digiring oleh Pak Prawoto ke ruang TIK. Pertama kali ku lihat wajah gadis kecil itu, dengan wajahnya yang bersih bersinar-sinar, matanya yang hitam bening,  satu jepit rambut hitam untuk menjepit poninya dan rambutnya yang selalu dikuncir satu di belakang.
“Syarifa, Rosida dan Arum kalian akan tinggal di rumah Lilis,mulai sekarang kalian bersaudara, ayo ndang berpelukan” begitulah kata Pak Prawoto.
Para gadis kecil itu menolak dengan manja, “ Ya Allah Pak, kami habis olahraga, baunya kecut, nggak enak”
            Dia lah Lilis Isnanti adik kecil yang kumaksudkan tadi, aku dan kedua temanku bermaksud untuk mengisi liburan dengan tinggal di rumahnya, sedangkan Olivia dan Nisa di rumah Maryati. Kami berpencar ketika bel pulang sekolah tengah berdering.
“Dek kok nggak pakek sepatu? Sepatunya kok dijinjing?” begitulah awal percakapanku dengan Lilis.
“Lha tadi habis olahraga lo kak..”
“Lha terus kalau habis olahraga kenapa? Ndang pakek to..”
“Enggak mbak udah biasa..”
            Aku dengan kedua temanku masih berjalan menyusuri jalan ber-paving dengan membawa tas kami yang berat. Adik itu mempimpin di depan, bersama dengan temannya, Monika.
“Dek rumahmu masih jauh ta?”
“Masih jauh kak..”
            Aku yang saat itu sudah kelelahan, benar-benar tak bisa berhenti mengeluh, keringat mulai mengucur deras dari pelipis dahi, apalagi matahari sudah mencapai perjalanananya, di tengah, tepat di atas kepala kami, tepat pukul dua belas siang.
            Setelah berjalan agak jauh, adik kecil itu berkata, “Sini lo kak kesini..”
“Loh kok ke sana dek?” Aku yang saat itu mulai kelelahan sukses membuat huruf O besar di mulutku, di sana tidak ada jalan, hanya jalan setapak di antara sawah.
“Iya lewat sii, habis itu turun bukit, lewati sungai, naik bukit, baru sampai rumahku kak, kurang lebih setengah jam dari sini”
“Hahh....”
            Ini hanya jalan setapak dengan batu-batu di antaranya. Aku tak bisa membayangkan jika aku harus melewati jalan ini terus untuk ke sekolah.
“Kak lebih baik dicopot aja sandalnya, nanti licin malah kebleset”
Eh enggak kok dek, sandalnya lagi nggak licin, aku pakai aja ya..” Aku memilih untuk tetap memakai sandalku daripada malah kakiku yang terkena benda tajam.
Adik itu yang aku tak tahu bagaimana caranya, mengapa dia dengan kaki telanjang bisa dengan mudah melewati batu-batu dan jalan setapak yang curam ini? Mataku tak berhenti memandangi kaki mungil yang kuat itu.
“Dek udah sampai?” Arum, temanku mulai bertanya.
“Belum kak lha wong ini belum turun bukit juga”
“Dek leren dulu dek aku udah nggak kuat, Ya Allah dadaku sesek” begitu sambung Arum lagi.
Kami yang baru pertama ini mengalami pengalaman sepeti ini, benar-benar lelah, kami berhenti di bawah pohon besar untuk istirahat dan minum.
“Dek minum?” aku menawarkan
“Nggak kak..”
“Loh apa nggak haus?”
“Udah biasa..”
Berulang kali aku sukses membuat huruf O di mulutku, nggumun dengan anak-anak yang hidup di desa ini. Mengapa mereka begitu kuat?
            Akhirnya kami turun bukit juga, melewati batu-batu dan jalan yang curam, berulang kali aku menjerit-njerit takut kebleset dan jatuh, harus ku akui aku yang paling banyak menjerit dan yang paling takut melewati bukit ini ketimbang kedua temanku.
Teringat aku akan kehidupanku di Bojonegoro, yang jarak antara rumahku dengan sekolah hanya 1km, dengan aspal yang bagus plus naik sepedah motor pula, tapi berulang kali aku telat. Dia yang setiap hari harus melalui jalan ini untuk ke sekolah, tak pernah telat dan semangatnya untuk ke sekolah itu benar-benar membuka mata hatiku. Tiba-tiba air mataku menetes. Hal kedua yang aku sukai dari tempat ini adalah : semangat anak-anak untuk bersekolah
            Bunyi gemericik air mulai terdengar. Subhanallah, sungainya sekarang telah tampak. Kecil tapi indah, kami yang semula ingin foto-foto dan kecek di sungai itu tiba-tiba sirna dengan rasa capek yang luar biasa ini.
“Wes dek penting ndang teko omah ndisek, keceknya besok ae” Rosida mengatakan itu pada si adik.
            Akhirnya kami melewati sungai itu, dengan menginjak batu-batu di antara sungai. Aku yang untuk ke sekian kalinya, menjerit lagi. “Aaaa”
            Rute selanjutnya setelah melewati sungai adalah menaiki bukit, dan ternyata disinilah puncak dari segalanya. Aku yang pada saat itu berada di belakang sendiri berteriak, “Adik berhenti..!!”
Tubuhku mulai ngeleyang, dan mata mulai berkunang-kunang, jangan sampai aku pingsan di sini.
“Dek leren lagi ya dek..”
di tengah jalan bukit yang menanjak kami berhenti,
“Haduh dadaku sesek..” aku mengeluh lagi untuk ke sekian kalinya.
Tapi ini benar, kehidupanku yang hanya leha-leha di kota, seperti berbanding terbalik 180 derajat hari ini, terlempar keluar dari kotak amanku.
“Ayo kak kurang sebentar lagi, di atas sana sudah kampungku kak..”
Tanpa kulihat kelelahan di matanya adik itu menyemangatiku. Aku tersenyum, aku pasti bisa. Masak kalah sama anak kecil.
            Akhirnya sampai juga di kampung itu, ah.. kuberbalik dan kupandangi pemandangan yang ada di belakangku. Subhanallah..
Hal ketiga yang aku sukai dari tempat ini adalah : pemandangannya yang luar biasa
            Adik itu mengantarkan kami di rumahnya, ruang tamunya beralaskan kayu, tapi di sisi lainnya tak beraalas, hanya beralaskan tanah. Aku terkesiap. Langsung kudatangi dan kusalami orang yang ada di rumah itu. Kami dipersilahkan masuk ke kamar Lilis. Tertancap tulisan di tempel di depan itu “Disiplin Adalah Harga Diri Paling Tinggi”
            Setelah itu kami mengambil wudhu dan sholat. Seteah selesai kami digiring di ruang tamu dan menyetel televisi. Kakaknya Lilis langsung menuju dapur mempersiapkan makanan. Kami di ajak Lilis ke ruang tamu sekaligus ruang keluarga itu, kami menonton televisi. Yang aku herankan sekarang adalah.. televisinya sangat jelas, padahal kan lagi di desa. Apa karena kampungnya ada di atas bukit?
“Dek suka lihat film korea?” aku menanyakan dengan maksud ingin memulai perbincangan daripada diam saja.
“Suka kak, mau lihat film korea ta?”
“Eh gak usah liat ini aja, lagian jam segini kan nggak ada”
“Loh ya di TV Korea to kak..”
“Loh maksudnya?”
“Kan ini pakek parabola kak..”
“Hah..?” aku ndomblong
Hal keempat yang kusukai dari tempat ini adalah : adanya parabola
            Seusai menonton televisi kami tertidur, karena kami lelah.
            Bangun tidur kami mengajak Lilis jalan-jalan untuk melihat lingkungan sekitar. Akhirnya kami jalan-jalan di desa itu, Lilis mengajak temannya lagi, Monika. Ketika kami sedang enak-enakan berjalan tiba-tiba ada sekumpulan orang ramai di depan rumah warga. Kami bertanya kepada Lilis,
“Lis itu apa?”
“Oh itu Janggrung kak..”
“Loh apa itu dek?”
“Ya kayak ngamen gitu kak..”
“WOW”
Janggrung yang kami lihat itu ada satu orang laki-laki dan satu perempuan mungkin berusia sekitar 50 tahunan. Memabawa microphone dan alat musik., warga berbondong-bondong melihat dari anak kecil hingga orang dewasa. Anehnya, ketika kami lewat, warga malah melihat ke kami. Kami yang berulang kali saling berbisik “ada yang salahkah dari kita?” ternyata tidak. Kami hanya malu-malu dan terus berjalan.
            Pulang dari jalan-jalan kami langsung pulang, karena badan kami yang kotor kami memutuskan untuk mandi. Lilis langsung mengantarkan kami ke kamar mandi, Rosida giliran pertama, Lilis mengajak kami ke kamar mandi neneknya yang tertutup. Ketika Rosida lalu Arum sudah selesai mandi, sekarang giliranku. Aku masuk, tapi aku berniat untuk kembali lagi karena bingung kamar mandinya yang mana.
Setelah beberapa detik kuurungkan niatku setelah kulihat sabun dan bungkus sampo berseakan di bawah. Aku menelan ludah dan untuk kedua kalinya meneteskan air mata, ini kamar mandinya.
            Seusai mandi kami mengambil wudhu dan sholat, kami berbincang-bincang dengan Lilis di kamarnya.
“Dek ada legenda dek disini?”
“Iya kak, legenda gunung Gong”
“Mana itu dek? Ayo ke sana”
“Jauh kak, dulu itu katanya ada seperangkat Gong tapi yang punya itu orang “gaib” jadi gak kelihatan. Kalau mau pinjem itu harus ngomong sama yang punya nanti baru Gong nya muncul. Nah dulu ada yang pinjem kak, tapi Gong nya malah dijual jadi gak di kembalikan, dan yang nyuri it kak akhirnya meninggal sampai cucu-cucunya”
Suhu yang dingin di tengah malam ini dengan diiringi cerita yang agak sedikit horor membuatku merinding.
“Ayo dek tidur aja”
Aku tak sabar menunggu esok, 3 hari menjadi anak gayam, gondang. Aku tak sabar menikmati udara pagi yang sejuk, hal kelima yang aku sukai dari tempat ini. Tapi aku juga tak siap harus dua kali lagi melnuruni bukit,melewati sungai,menaiki bukit lagi untuk berangkat ke sekolah. Banyak pelajaran yang aku dapat disini, aku hanya tak sabar untuk pulang dan memulai hidup baru dari pelajaran yang kuambil dari sini, aku juga tak sabar ingin sesegera mungkin mencium tangan dan pipi kedua orang tuaku di rumah. Inilah dongeng di balik bukit, tak menyangka ada kehidupan yang sangat luar biasa di bukit itu, bahkan sebelumnya aku tak pernah menyangka ada kehidupan disana, di balik bukit itu aku belajar semuanya, dari sana aku tahu arti kehidupan.
Read more...

Nama yang pantas untuk lulus hanya Ayah

| | 0 komentar

            Hari itu matahari mulai lelah dan bersiap untuk tidur di singgahsananya, aku memberanikan diri mendekati lelaki itu di ruang tamu, satu-satunya lelaki di dunia ini yang kupercaya tak akan menyakitiku dan menghianatiku, lelaki yang rambutnya mulai memutih, Ayah, tak mau kupanggil Bapak.
            Meja,kursi,lampu,lantai,dinding ,pintu dan jendela ini menjadi saksi bisu pembicaraanku dengan Ayah. Yap, Lulus Widyandoko, lelaki yang selalu kubicarakan tadi. Namanya memang sedikit aneh “Heh dulu nama itu ada asal-usulnya lo nduk..” katanya sambil menerawang ke langit-langit atap rumah, mencoba mengingat masa lalu.
“Dulu mbahkung sama Yangti pengen punya anak laki-laki eh tapi anak pertama malah perempuan, habis itu Yangkung sama Yangti gak nyerah, mereka terus berdoa’a, eh tapi kok anak kedua dan ketiga perempuan lagi. Sempat hampir putus asa, tapi mereka juga tetep berdoa’a tambah rajin sama Allah, eh ya alhamdulillah banget lo nduk, anak yang ke 4 kok ya laki-laki, ya Ayahmu ini. Makanya namanya lulus artinya lulus udah dapat anak laki-laki gitu, hahaha” katanya dengan tawa yang menggelegar. “Setelah Ayah eh malah kebelakang anak lelaki semua nduk, ya om sony sama om wiwit itu, om sony anak ke 5 dan om wiwit anak ke 6” ujar lelaki penyuka warna abu-abu itu.
            Samar-samar suara televisi dari ruang tengah yang sedang ditonton adik dan Ibuku terdengar, meramaikan suasana kala diantara kita kehilangan bahan pembicaraan.
“Selain itu juga nama Widyandoko ada artinya nduk, widya=ilmu, handoko=banteng, jadi kalau digabung ilmu kerakyatan, suka bermasyarakat. Iya to nduk, kan banteng di pancasila artinya apa hayo?” kata lelaki kelahiran Madiun, 13 Januari 1963 itu.
“Rumah Ayah dari lahir sampe SMA ya di situ lo nduk, yang di Madiun itu.. di rumah Yangkung di jalan kapten saputra no 85, Alhamdulillah dulu rumahnya Yangkung gede, jadi muat dipakai 9 orang, haha” ujarnya lagi.
            “Riwayat pendidikan Ayah itu SDN endrakila (1969-1975) SMPN 4 Madiun (1975-1979) SMAN 1 Madiun (1979-1981) setelah itu kuliah S1 di ITN Malang (1983-1990)” kata lelaki berusia 49 tahun itu. Meskipun Ayah sudah menyandang gelar insinyur sekarang, tetapi Ayah mengaku ogah mengikutsertakan gelar itu di depan namanya.
Menginjak SMA kelas XII, Kakak peremuan Ayah, atau lebih tepatnya anak ke-3, Tri Prasetyoningrum, mulai mengenalkan calon suami nya, Tedjo Rumekso, kepada Yangkung. Sedangkan dua kakak perempuan Ayah sudah lebih dulu menikah.
“Jadi dulu itu Ayah akrab sama pakde Tedjo sebelum menikah sama budhe Ning, dulu karena Ayah pengen banget bisa nyupir akhirnya setiap kali pakde Tedjo ngapel ke rumah Yangkung, mobilnya selalu Ayah pake buat belajar, pernah pada suatu hari mobilnya tabrakan ke pohon, peyok kabeh, hahaha” tawanya.
“Untungnya pakdhe Tedjo gak marah nduk, lha nanti kalau beliau marah gak direstuin Ayah dong hubungannya sama budhe Ning, hahaha” ujar lelaki itu sekali lagi dengan tawanya yang khas.
            Setelah lulus SMA sebenarnya Yangkung pengen Ayah jadi dokter, soalnya Ayah anak lelaki yang paling tua jadi harus ngasih contoh yang baik, selain itu juga Yangkung pengen banget ada anaknya yang jadi dokter,  waktu itu Ayah menuruti keinginan Yangkung di Universitas Airlangga jurusan kedokteran. Tapi kenyataannya Ayah tidak lolos tes. Ironisnya karena watak Yangkung yang kemauannya harus bisa diwujudkan dan karena obsesinya yang sudah terlalu tinggi, Ayah dipaksa disuruh les ini itu dan belajar terus setahun penuh buat nanti ikut tes tahun depan. Saat pengumuman tes keluar, ternyata Ayah tak masuk lagi, saat itulah Yangkung sadar kalau memang tempatnya Ayah bukan disitu, dan membebaskan Ayah memilih universitas sesuai keinginan hatinya.
Ayahku yang waktu itu, langsung memilih ITN Malang jurusan Teknik Sipil.
            Ketika Ayah semester 2, budhe Ning dan pakde Tedjo melangsungkan pernikahan, secara sah mereka sudah berstatus suami istri, Ayah senang dengan itu semua. Lalu pakdhe Tedjo lah yang membiayai kuliah Ayah dari semester 3 sampai wisuda.
            Ketika Ayah kuliah di Malang, Ayah ngekos di Jalan Yogyakarta Dalam nomor 7, kos yang berisikan 20 orang laki-laki itu benar-benar sangat ramai. Tapi wanita yang kadang-kadang mampir ke kos nya untuk memberikan makanan atau sekedar berkunjung untuk menemui Pakde Hendro yang notabene adalah mas dari Ibu saya, Lilik Wulandari, kebetulan ibu saat itu juga kuliah di Malang, di IKIP Malang jurusan Matematika. Wanita itu enar-benar menarik perhatian Ayah. Lambat laun Ayah terpikat dengan gadis tersebut dan berniat akan menikahinya kelak di saat Ayah sudah memiliki  pekerjaan. Sebenarnya Ayah waktu itu ingin melakukan pendekatan terlebih dahulu atau lebih tepatnya pacaran sama ibu, tapi karena sungkan sama Pakde Hendro akhirnya Ayah baru berani mengatakan perasaanya seusai lulus kuliah. Lulus kuliah di tahun 1991 sampai 1996 Ayah langsung menyatakan perasaanya dan ditrima oleh ibu, Ayah membelikan sebuah boneka beruang yang sangat besar sekali.
            Cerita cinta Ayah dan Ibu pun dimulai, seusai kuliah Ayah langsung merantau ke Jakarta mengikuti temannya yang sudah sukses. Sedangkan ibu tetap di Malang melanjutkan kuliah, karena ibu belum lulus. Ayah dan ibu melakukan LDR (Long Distance Relationship). Selama 2 minggu Ayah menginap di rumah temannya yang bernama Agus. Tapi lama kelamaan Ayah merasa sungkan karena Pak Agus saat itu sudah berkeluarga. Ayah memutuskan pindah ke rumah temannya yang bernama Harry. Harry yang waktu itu sedang menginap di rumah temannya, akhirnya membiarkan Ayah menginap di perumahan kosong tanpa listrik sendirian selama 2 minggu. Lelaki yang sekarang kupanggil Ayah, waktu itu sedang pontang panting mencari pekerjaan, menginap di dalam rumah kosong tanpa cahaya. Dalam ketakutan Ayah tetap bertahan, setiap waktu tak ubahnya selalu sholat tahajud, memohon kepada Allah setiap malam, berharap doa’nya segera dikabulkan oleh Sang Maha Esa. Aku tak tega membayangkan keadaan Ayah yang seperti itu.
            Dalam keadaan seperti itu Ibu yang selalu menguatkan Ayah, selalu berkirim surat menanyakan kabar atau saling berbagi cerita. Karena saat itu harga HP sangat mahal. “Iya nduk, kalau nggak percaya besok kalau ke rumah nenek tak kasih tau suratnya, walah ada seambrek nduk. Masih ibu simpen. Dulu itu selalu seneng banget pas ada pak pos di depan kos. Sampe sekarang ibu seneng banget sama lagunya Dewa 19 yang judulnya Kangen. Selalu ngingetin ibu sama Ayah” ujar ibu.
            Karena semua itu akan indah pada waktunya, tak disangka setelah perjuangan Ayah yang berliku-liku untuk mencari pekerjaan. Akhirnya Ayah dapat panggilan pekerjaan di CV Jati Kuning sebagai Site Eneering, dan beliau langsung berniat menikah dengan ibu. Pada tanggal 26 Oktober 1994, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Puncak dari segala penantian. Ayah mempersunting ibu.
“Dulu itu pernikahannya dirayakan kecil-kecilan, cuma di depan rumah Mbauti itu lo nduk, yang di Tulungaung, di Jalan Lawu nomor 24 Bolorejo Kecamatan Kauman” Sambung Ibu yang ikut menemani kami di ruang tamu. “Dulu Mbauti sampe bilang ngene nduk ‘Aku heran, sing nyenengi awakmu kok wong meneng-meneng ae ketmbiyen, padahal kamu ki cerewete koyok ngono’ Hahaha justru itu to nduk yang dinamakan pasangan yang serasi. Namanya kita aja udah mirip. Iyo to mas?” kata Ibu sambil melirik genit ke arah Ayah. Aku sontak tertawa, masih saja tingkah mereka seperti ini. “Dulu itu Ayahmu orangnya yang paling baik diantara 7 saudaranya, paling pendiem, gak kakean polah, sholat 5 waktu gak pernah ketinggalan, plus Ayahmu itu lo gak suka kopi sama rokok, benar-benar cowok impian” Aish.. Ibuku ini ternyata memang benar-benar cerewet.
Setelah pernikahan berlangsung Ayah ditugaskan untuk mengerjakan proyek di Kelud, Kediri. Ibu waktu itu ingin mengikuti Ayah, akhirnya setelah menikah Ayah dan Ibu tinggal di daerah Kelud. Lalu kabar gembira pun  datang, Ibu ternyata hamil. Ayah waktu itu langsung mengecup kening ibu mengucapkan terimakasih.
            Laksana awan hitam yang tiba-tiba menganggu ketentraman awan putih dan merusak cerahnya pagi, menghilangkan pelangi dan matahari. 3 bulan kemudian kabar buruk itu benar-benar mematikan saraf kedua orang tua ku. Ibu mengalami keguguran.
Setelah tinggal satu setengah tahun di Kelud, akhirnya Ayah dan Ibu memilih kembali ke Madiun. “Karena waktu itu Ayah belum punya uang buat beli rumah, akhirnya kami sementara tinggal di rumah Yangkung nduk di Madiun, jadi ya gak enak gitu gak bisa bebas” ujar Ibu. “Setelah itu, Ibu hamil lagi nduk, ya hamil kamu ini, dulu Ayah pengen nya kamu anak cowok eh gak taunya cewek, mungkin ini nduk yang nyebabin kamu agak tomboy, haha” Ibu menambahi lagi. Ibu selalu berdoa setiap malam di saat orang-orang terlelap dalam tidurnya dan di saat orang-orang sibuk dengan pekerjaannya. Ibu memohon kepada Allah, agar menyelamatkan bayinya yang satu ini.
            16 Desember 1995 lahirlah anak bernama Syarifa Widyandari, setelah itu mereka memutuskan untuk pindah ke rumah Mbauti di Tulungagung sedangkan Ayah pindah jerja menjadi Staf Bangunan Jack dan Brother di Surabaya hanya selama 3 bulan, tapi Ibu jadi jarang ketemu Ayah. Lalu Ayah memutuskan untuk pindah ke Bandung tahun 1996-1999 karena Ayah dipindah kerjakan di Bandung, menjadi Developer Bumi Adipura Bandung Jawa Barat sebagai Pengawas Infrastruktur. Kami tinggal di rumah budhe Erna di Banfung karena beliau sudah pindah di Bogor.
            “Dulu itu lucu nduk kamu, Ayah sama Ibu udah bingung kamu udah besar tapi masih belum bisa jalan, tapi pada suatu hari pas Ayah pulang dari kerja, tiba-tiba kamu berdiri dan lari buanter ke Ayah, loh alhamdulillah haha, gak bisa jalan tapi langsung bisa lari, setelah itu langsung diselameti sego kuning” ujar Ayah menerawang.
            Karena bantuan dari pakde Tedjo yang notabene adalah salah satu orang penting di Perhutani, akhirnya Ayah pindah kerja di Surabaya sebagai Staf Pelaksana Teknik Bangunan Perum Perhutani Unit 2 mulai tahun 1999-2008.
“Ya kalau bisa dibilang nih nduk, orang yang paling berjasa dalam hidup Ayah setelah orangtua ya Pakde Tejo sama budhe Ning ini nduk”
            Ayah dikenal sebagai orang yang jujur di kantornya. Rendah hati, taat beribadah, baik, pendiam, rajin dan tidak banyak omong. Ayah mbajak antara Bojonegoro-Surabaya selama 9 tahun dengan menumpangi kereta api Kerta Jaya. Sehingga kami sekeluarga jarang bisa bertemu Ayah.
            Lalu Ayah mengajukan permohonan untuk dipindah tugaskan di Bojonegoro saja, karena kegigihan dan keuletannya akhirnya permintaan tersebut dikabulkan oleh atasan. Ayah pindah kerja di Bojonegoro tahun 2009 sebagai Kaur Umum Kbm Sar Kayu 2 Bojonegoro. Lalu, di tahun 2011 sampai sekarang Ayah dinaikkan jabatannya menjadi Assman Sdm dan Umum. Rumah kami yang dulu hanya biasa saja, kini alhamdulillah sedikit demi sedikit mulai dibangun, apalagi ditambah kehadiran malaikat kecil Ikhlasul Amal yang lahir pada tanggal 14 September 2006. Keinginan Ayah untuk mempunyai anak cowok terkabul juga. Meskipun umur Ayah menginjak kepala 5 tapi Ayah selalu menyempatkan diri bersama keluarga, dan juga adikku, yang biasa dipanggil Izul. Bermain perang-perangan kek, mengajaknya keliling kota naik sepeda motor, dan membeli es degan langganan Ayah di depan SMA Negeri 2 Bojonegoro, sekolahku saat ini. Karena kedua orang tuaku bekerja jadi ketika pagi adik dititipkan di tetangga. Kegiatan Ayah saat ini aselain bekerja adalah memelihara 6 ayam yang ada di belakang rumah, 2 diantaranya ayam jenis kate. Ayah adalah yang selalu heboh jika ayamnya sakit, yang selalu memasukkan lombok ke mulut ayam agar ayamnya cepat sembuh. Selain itu Ayah juga memelihara 3 burung yang sangkarnya dicantolkan di depan rumah, ada burung jalak, trucuk’an dan benggolo.
Dengan pindahnya Ayah di bojonegoro, setidaknya, kami sekeluarga bisa selalu berkumpul bersama, seperti ini.
Menurut pandanganku, meskipun Ayah terlihat agak cuek. Tapi dalam kecuek’an beliau, beliau sangat perhatian sekali. Ayah adalah orang yang selalu memarahiku jika aku jajan sembarangan, makan telat dan pulang malam. Ayah adalah orang pertama yang mendadak dingin kalau ada teman laki-laki ku ke rumah, padahal kan cuma teman, mungkin Ayah belum rela kalau ada lelaki lain yang nanti akan mengisi hatiku selain dirinya, hehe. Tapi aku tahu Ayah melakukan itu semua demi kebaikanku.
Terimakasih Allah, telah kau lahirkan aku untuk keluarga ini. Terimakasih telah kau lahirkan aku dari rahim ibuku dan telah kau hadirkan lelaki perkasa yang selalu menyayangiku, Ayah..



Surat Untuk Ayah


Tanganku bergetar ketika menulis ini
Aku berulang kali menelan ludah ketika kutanyakan perjalanan hidupmu
Aku berulang kali tercengang mengingat begitu banyaknya pengorbanan yang kau berikan
Berulang kali juga langsung ku usap air mata agar kau tak melihatku menangis
Maaf kalau aku baru bisa melihat sekarang

Seumur hidupku rasanya aku tetap tak mampu untuk membalas semua jasamu
Kau telah memeras semua isi otak dan tenaga untuk keluarga ini
Berjuta peluh dan kesah telah kau teriakkan di dalam kesunyian
Tak ingin orang lain mendengar dan menyadarinya

Aku tak tahu apa lagi yang harus ku lakukan
Maaf kalau sampai saat ini aku masih belum bisa membahagiakanmu
Maaf kalau selama ini aku belum menjadi anak yang baik di matamu
Maaf kalau aku benar-benar membuatmu marah dan berteriak

Aku tahu sebenarnya kau mengelus dada melihat kelakuan anakmu ini
Tapi apa kau tahu Ayah? Sungguh aku ingin membahagiakanmu
Sudah ku coba segala cara yang aku bisa
Tapi mengapa aku masih belum menggapai senyum itu?

Ayah, maafkan anakmu ini.
Ayah, terimakasih atas semua pengorbananmu selama ini
Kau tahu? Kau adalah lelaki terbaik yang pernah kutemui
Ayah, aku ingin agar kelak bisa membahagiakanmu


Bojonegoro, 24 Januari 2013
Anak yang ingin membahagiakanmu
Read more...

I'M SO WRONG

| | 0 komentar

Cast :
1) Cho Kyuhyun (SuJu)
2) Key (Shinee)
3) Yang Hyun Ji a.k.a YOU
4) Yang Yoseob (BEAST)
5) Shim Changmin (TVXQ) a.k.a Yang Changmin
6) Choi Soyoung(SNSD) a.k.a Yang Soyoung

Genre : Romance, Mystery



*************************


Hari ini tepat 4 tahun kematian kedua orangtuaku. Meskipun begitu, aku tak akan pergi ke pemakaman mereka. Bukan karena aku jahat atau anak durhaka, tapi aku benar-benar merasa bersalah pada mereka, aku benar-benar tak cukup tangguh untuk menampakkan wajahku pada mereka. Kematian mereka karena diriku, yup, ini semua salahku. Aku takkan pernah bisa memaafkan diriku sendiri.


FLASH BACK on-

“Appa, belikan aku PSP malam ini juga” kataku dengan sedikit memelas. Belum sempat aku mendengar jawaban dari appa, Yoseob -saengku yang hanya beda 1 tahun denganku- yang sedang menonton TV malah yang menjawabnya.

“Ya! Nuna. Bukankah kau sudah punya PSP?” Ih... bocah kecil itu ikut campur dengan urusanku saja. -____-

“Ya! Kau saeng babo, diam saja, aku tanya pada appa mengapa kau yang menjawab? Lagipula PSP ku yang lama sudah rusak” kataku dengan nada sewot. Aku sudah tak mendengar lagi suaranya, mungkin dia sudah menyerah. Yes! ^.^

“Appa, bagaimana?” aku menanyai appa ku lagi yang kini sedang duduk di sampingku di ruang tamu.

“Ne, tapi jangan sekarang ya, appa capek habis pulang kantor” appa mengusap rambutku dengan kasar.

“Jebal apa ... aku sangat menginginkannya” aku mulai mengeluarkan puppy eyes ku 0.0

“Ya sudah kalau begitu, appa berangkat sekarang” appa mengambil kunci mobil dan segera keluar, tapi umma tiba-tiba saja mengejar appa.

“Tunggu sebentar, umma juga mau membeli bahan-bahan makanan yang sudah habis” beberapa detik kemuadian, terdengarlah mesin mobil dinyalakan dan perlahan mulai tak terdengar.

Aku lalu bergabung dengan Yoseob di ruang tengah dan menonton acara favoritku, Strong Heart. Di tengah-tengah tawaku yang membeludak(?) gara-gara kelucuan tingkah para artis itu, tiba- tiba saja terdengar bel rumah berbunyi. Ahh, mengganggu saja.
Aku segera berlari dan membukakan pintu itu, aku benar – benar terkejut setelah tahu siapa yang datang.

“Polisi? Ada keperluan apa?” kataku langsung to the point

“Benarkah ini rumah kediaman Yang Changmin dan Yang Soyoung ?”

“Ne, saya adalah putrinya, apa yang terjadi?” jawabku singkat. Yoseob kemudian berlari dan ikut bergabung denganku.

“Telah terjadi kecelakaan di Jln Kyuyoung dan mereka tewas di tempat setelah kecelakaan itu, kecelakaan itu terjadi karena mereka berusaha menghindari bocah seusia kalian yang bersepeda ugal-ugalan”

“MWO?!” aku langsung menangis. Yoseob langsung memelukku dan ikut menangis dalam dekapanku

“Siapa bocah itu?” kataku di tengah isakan tangisku

“Kami belum tahu siapa, dia melarikan diri”

FLASH BACK end –


Tiba – tiba saja air mataku sudah jatuh mengenai pipiku, aku benar – benar sedih mengingat kejadian itu, andai saja aku tak menyuruh appa dan umma membelikanku PSP, pasti tak akan terjadi kecelakaan itu. PSP? Semua ini hanya karena keinginan bodohku. Argghhh ...
Semua itu awal dari penderitaanku, aku hanya tinggal berdua di rumah bersama dengan Yoseob. Kerabat jauhku tinggal di luar Seoul, yah walaupun mereka sesekali mengunjungiku di sini. Untung saja appa dan umma mempunyai beberapa hektar tanah di Daegu yang bila di jual harganya akan lumayan, cukup untuk memenuhi kebutuhan kami berdua, tapi aku juga harus banting tulang sendiri, apalagi umurku yang baru 17 tahun , terkadang jika aku ingin, aku kerja di cafe untuk bernyanyi. Untuk biaya sekolah aku dan Yoseob tak ada masalah, karena kami berdua mendapatkan beasiswa. Huh, akhirnya aku tahu kehidupan yang sebenarnya seperti apa. Kejam .

“YA! Hyujin, tidak baik melamun seperti itu” tiba – tiba saja ada yang mengagetkanku, Key. Sahabatku sejak kecil, dia yang selalu menyemangatiku saat kedua orangtuaku meninggal dulu.

“Kau ini mengagetkanku saja” aku langung menghapus air mataku dan tersenyum  –senyum yang dipaksakan tentunya–

“Hahaha... eh, songsaengnim sudah masuk tuh” Key kemudian berlari ketempat duduknya.

Ketika semua murid mulai heboh untuk ke tempat duduknya masing-masing, hanya aku dan lelaki misterius itu yang selalu tenang di bangku masing-masing. Cho kyuhyun. Dia anak baru di sekolah ini, tak banyak anak yang mengetahui latar belakangnya, dia benar – benar misterius. Tapi aku membencinya. Yup karena dia sangat pintar matematika mlebihi diriku, huhhh aku memang mendapat beasiswa tapi aku sangat lemah dalam matematika sejak kecil >.<
Ditambah lagi , dia selalu membawa PSP kemanapun dia berada. Ahhhh aku kan sangat benci dangan PSP! -___-

“Anak – anak, tadi Mr. Siwon pemilik yayasan di sekolah kita telah memberitahu, bahwa di tahun ini, akan ada pembagian beasiswa lagi, satu minggu lagi akan di adakan tes tersebut, selamat berjuang^^”

Ahh, sial. Aku harus berjuang mati – matian lagi untuk mendapatlan beasiswa itu, kalau pelajaran yang lain sih aku bisa, tapi kalau matematika? Huh jangan di tanyakan lagi.
Aha. Sepertinya aku mendapatkan ide ^.^

Jam sekolah telah usai, aku dan key pun bersiap untuk pulang bareng, memang dari dulu kita selalu pulang bareng, rumah kita searah dan lumayan dekat dari sekolah. Pulang sekolah sambil jalan kaki tidak salah bukan? Itu menyenangkan :D
Langkahku terhenti, aku mengingat sesuatu,

“Hmm... key, kau boleh pulang duluan” kataku kepada key.

“loh? Memang ada apa? Kau sedang ada urusan? Aku akan menunggumu kok, santai saja” key lalu melingkarkan tangannya ke pundakku.

“Ya! Jangan seperti ini, malu tau di lihat orang” kataku sambil melepas tangannya.
“Sudahlah kau pulang duluan saja, aku masih lama” aku lalu mendorongnya untuk cepat pergi sehingga dia sampai terjatuh.

“Hyunji...! sakit tau! Arraso, aku akan pulang dulu.. ne~” Aku menantinya sampai dia benar-benar berjalan untuk pulang

Mianhae key, tapi aku harus melakukan ini.
Aku mencari sosok itu, ahh, itu dia, aku segera menghampirinya.

“Kyuhyun” kataku sambil berlari. Dia masih saja belum mendengarnya. Aku geram juga. Aku pukul punggungnya kuat dan memanggil namanya cukup keras.
“CHO KYUHYUN ...! KAU MENDENGARKU ATAU TIDAK?!” dia mulai membalikkan tubuhnya. Fiuh~ akhirnya. Dia tampak sedang melepaskan sesuatu dari telinganya. MWO? Jadi dari tadi dia mendengarkan ipod ? aku benar-benar seperti orang gila sekarang.

“Apa kau memanggilku?” dia masih saja selalu tanpa ekspresi, aku tak pernah melihat satu ekspresi pun dari wajahnya, hanya muka yang datar -_-
Aku tertunduk malu, ah, aku benar-benar gak bisa kalau menatap wajahnya, aku cukup malu dengan kejadian yang baru saja ku alami
“ne~” kataku dengan wajah yang masih tertunduk

“Ada keperluan apa kau memanggilku?” tanyanya

Dengan sisa keberanian yang aku punya, aku menjawab pertanyaannya
“Bisakah kau membantuku?”

"Membantu? Membantu apa?" Dia kini menatapku, aku menatapnya, mata kita bertemu.

"OMO?! Neomu kyeopta" tiba - tiba aku berbicara tanpa sadar karena melihat wajahnya yang nyaris sempurna. Mengapa aku baru menyadarinya?
Apa? bicara apa kau tadi Hyunji, buang jauh-jauh pikiran itu. Aishhh apa yang terjadi padaku ><

"Mian, kau tadi bilang apa?" Perkataanya membangunkan lamunanku.Ulala, aku baru ingat jika tadi aku keceplosan. Aku segera menutup mulutku.

"Ah, aniyo... bukan hal yang penting" ahh sial, pasti mukaku memerah sekarang >.<

"Owh, bukan hal yang penting, ya sudah aku akan pergi sekarang, kau membuang waktuku saja" dia berbalik dan segera melenggang(?) untuk pulang.
Butuh waktu sekitar  5 detik untuk menyadarkanku pada tujuan utamaku dan ...

"CHAKKAM !" teriakku tiba-tiba.
Dia berbalik dengan tatapan -apa-sih-maumu-  Sepertinya mimik wajahnya benar-benar kesal dengan perlakuanku dari tadi, hehehe ^.^

"Kau mau apa lagi? Cepat katakan" wajahnya berkata seolah-olah dia adalah artis terkenal yang gak banyak waktu luang.

"Aku mau minta tolong, hmm tolong ajari aku matematika, cukup 1 minggu saja,please ... ini demi mempertahankan beasiswaku" kataku sedikit memohon

Dia lalu mengangkat satu alisnya dan berkata
"Bukankah kau sudah pintar? Dan kau dulu juga sudah dapat besiswa, mengapa kau malah minta untuk aku ajari?"

"Hmm, soal itu, aku benar-benar lemah dalam matematika. Kau tak tahu ha? Betapa aku dulu bekerja keras untuk belajar matematika sendirian dan itupun nilaiku hanya 7, mungkin jika aku tidak mendapatkan rata-rata nilai 10 di pelajaran lain, aku tidak akan dapat beasiswa itu" kataku panjang lebar, capek juga lama-lama ngomong sama dia ==

"Hoammm" Ya! Apa yang dia lakukan? Menguap? Setelah aku jelaskan panjang lebar sampai tulang lidahku patah begini (emangnya lidah punya tulang? *plakkk /abaikan)

"Ya! Jadi bagaimana? Kau mau tidak?" aku sedikit membentaknya, ini sebenarnya yang minta di ajarin siapa sih, kok malah aku yang marah +.+

"Ne, sepulang sekolah di rumahku" dia lalu pergi tanpa menunggu jawaban dariku, huhh namja menyebalkan ><
Tunggu sebentar, aku kan tak tahu dimana rumahnya? Aishhh ... yasudahlah besok saja aku tanyakan lagi.

Aku lalu memilih untuk pulang, hmm, ada yang aneh rasanya pulang sendirian, tanpa ada Key di sampingku, dia yang biasanya membuat lelucon sehingga aku bisa tertawa, atau kalau tidak, dia senang sekali berbicara panjang lebar alias cerewet seperti umma-umma. Bahkan dia lebih cerewet dari umma ku dulu, ahhh umma ... I MISS YOU TT___TT

Angin lalu berhembus menerpa rambut sebahuku, seakan anginpun ingin memberitahu kalau umma mendengarku di surga sana ...


@Rumah Hyunji  >>>

Ahh, akhirnya sampai juga. Aku lalu melenggang masuk rumah tanpa memencet bel terlebih dahulu.
"Anyeong ... "

"Anyeong ... ah, nuna sudah pulang?" Yoseob lalu menyambutku seperti biasa.

"Ne ^^ Nuna mandi dulu ya Seobie ..." aku langsung memilih untuk membersihkan badanku terlebih dahulu.
Akhirnya selesai juga, aku langsung bergabung dengan Yoseob di ruang tengah seperti biasa sambil mengusap - ngusapkan rambutku yang basah dengan handuk ini.

"Seobie? Apa kau sudah ke pemakaman appa dan umma? Hari ini tepat 4 tahun kematian mereka" kataku pada Yoseob sambil berpura-pura tegar. Aku tidak akan ke makam, tapi aku tidak akan melarang Yoseob untuk mengunjungi mereka. Dia selalu mengajakku, tapi aku menolaknya, dia selalu bilang kalau semua itu terjadi karena takdir Tuhan, bukan karenaku, tapi entahlah, aku akan terus merasa bersalah :(

"Tentu saja aku ingat, tadi aku sudah ke sana, tapi ada yang aneh nuna, lagi-lagi ada orang yang mengunjungi makam appa dan umma" aku kaget mendengar jawaban Yoseob,  orang itu belum menyerah juga rupanya. Orang misterius yang selalu memberikan bunga di makam umma dan appa, yang sampai saat ini kami belum tahu orang itu siapa.

Aku lalu mencoba merubah suasana
"Seobie, sepertinya nuna sementara gak akan nyanyi di cafe dulu, karena nuna mau konsentrasi sama tes beasiswa itu" kataku pada Yoseob yang lagi asyik nonton Spongebob(?)

"Gweanchana nuna, nuna konsentrasi saja, tak usah memikirkan hal-hal yang lain" Dia lalu menatapku dan menghentikan sejenak kegiatan menonton Spongebobnya itu
Tapi, kali ini berbeda, dia mengerlingkan matanya  dan senyuman yang aku sendiri tak tahu apa artinya, hmm ...

"Saeng ku yang paling babo, berhentilah menonton kartun seperti ini, nanti yeoja gak ada yang mau sama kamu" kataku sambil melempar handukku kepadanya yang, hap , tepat mengenai mukanya.

"Nuna, menjijikkan, ini bau tau" Dia balas melempar tapi aku keburu berlari sehingga handuk itu hanya melingkup(?) di lantai dengan sadisnya(?)

"Gak kena tau, gak kena, wek :P " aku kasih merong paling khas yang aku punya. Dia geram sambil mengerucutkan bibirnya. Ahhh lucu sekali saengku yang satu ini. Aku segera berlari ke dapur untuk membuat masakan, perutku lapar sekali.

"Lihat saja nuna, aku akan membuktikan kalau aku juga nanti pasti akan punya yeojachingu" Aku mendengar dia berteriak dari ruang tengah.
"Kayak nuna udah punya namjachingu saja" Dia meneruskan teriakannya sambil dengan nada meremehkan sekarang.

Aku berfikir sebentar, oh iya, aku ini kan juga belum pernah punya namjachingu, aku selalu sibuk dengan kehidupan yang ku alami sehingga belum pernah memikirkan hal-hal seperti itu. Meskipun temanku di kelas sudah pada mesra-mesraan apalagi Kim Ae Soon dengan Yesung itu, mereka benar-benar serasi, membuatku iri saja. Dan satu pasang lainnya Hyomi dan Eunhyuk pasangan paling aneh, tapi mereka unik.  Ahhh aku tak akan memikirkan hal-hal seperti itu dulu. Kalau jodoh pasti tidak akan kemana, betul kan?

Setelah memasak mie ramen aku lalu memakannya dengan lahap dan setelah kurasa aku benar-benar sudah kenyang aku kembali ke kamarku. Aku lalu ingin kembali menggodai saeng babo ku ini, seru juga rupanya, hehehe ^.^

"Seobie, setelah ini jangan lupa lihat Dora" kataku dengan cepat lalu menutup pintu sebelum dia melemparkan bantal yang ada di tangannya, hahaha

"Nuna babo! Awas kau!" aku mendengar dia berteriak tak terima di luar sana.

Aku lalu mengambil hp ku yang daritadi belum aku buka. Ada 10 pesan masuk dan 3 miscall di sana. Aku lalu mebukanya. Semuanya dari ... Key

From : Key Umma
HYUNJI ! Kau dimana? Apa sudah pulang? Apa kau baik-baik saja?
Aku mengkhawatirkanmu. Kalau sudah pulang jangan lupa balas pesanku.
Arraso ?!!

9 pesan yang lainnya kira-kira juga seperti itu, huhh dasar umma -___- Aku lalu membalasnya

To : Key Umma
YA! KEY! Aku sudah besar tau. Emangnya kau pikir aku akan tersesat
Dan tak tahu jalan pulang? Ahhh aneh-aneh saja kau ini -___-

Beberapa detik kemudian dia membalasnya, cepat sekali balasan darinya o.O

From : Key Umma
Untunglah... kau sudah pulang :]
YA! Bukan begitu maksudku, hanya saja aku mengkhawatirkanmu.
Ini kan pertama kalinya kau tidak pulang bareng denganku,
Bisa saja ada ahjussi-ahjussi yang mengganggumu, oh ya,
Tidak mungkin lah ahjussi itu tertarik menganggumu :P

Mwo? Aku emosi juga melihat balasannya

To : Key Umma
YA! Kau ini! Awas kau ya :@

Aku lalu merebahkan tubuhku di tempat tidur ini, hari ini begitu ... melelahkan.


~Keesokan harinya >>>>

"Hyunji ... PPALI! dasar yeoja babo"  Mengapa Key sudah mengeluarkan omelannya di pagi-pagi begini - ___-

"Tunggu sebentar, aku sedang memakai sepatu" Kataku sambil berteriak agar suaraku dapat di dengar oleh Key yang ada di halaman rumahku.

"PPALI !!!" Dia semakin  berteriak lebih kencang, ahhh malu tau sama tetangga ><

"NE! Aku sudah selesai" Aku lalu mengunci rumahku dan segera berangkat bersama Key.

Beberapa menit kemudian kami sampai di sekolah, dan segera masuk ke kelas. Ketika aku dan Key melewati koridor - koridor sekolah, kulihat ada beberapa dari murid sekolah ini yang terlihat bisik-bisik dan sebagian lagi ada yang tersenyum melihat kita. Ahhh aku sudah tahu pasti mereka mengira kalau aku dan Key berpacaran, aku sudah tahu itu semenjak di beritahu oleh Sulli -teman sebangkuku- beberapa hari yang lalu. Memang sih pikiran mereka itu tak salah, karena mungkin aku dan Key memang terlihat terus bersama seperti Upin & Ipin(?) tapi kan mau di apain juga aku dan Key itu hanya sahabat baik, iya kan?

Aku sudah sampai di kelas dan segera menaruh tasku di sana, Sulli lalu segera berkata padaku
"Hyunji ... kau benar-benar serasi dengan Key" dia menggodaku, tapi aku melihat ada gurat kesedihan di wajahnya, apa artinya?

"YA! Sudah kubilang beberapa kali, aku dan Key itu hanya sahabat biasa, kau seperti tidak pernah melihat kami saja, aku dan Key kan memang sudah dari dulu berangkat dan pulang bareng ke sekolah. Apa jangan-jangan, kau? Cemburu ya?" Sekarang giliranku yang menggodanya.

"Ani... a-ni-o" Dia terlihat sangat gugup dan wajahnya kemudian memerah. Hahaha betul kan dugaanku.

"Tenang saja, aku akan membantumu ;)" kataku sambil mengedipkan(?) satu mataku

"Ahh... apa yang kau bicarakan sih Hyunji" Katanya dengan senyum yang mengatakan bahwa
-appan-sih-aku-kan-jadi-malu-

"Hahhahahaha" aku lalu tertawa melihatnya seperti itu.

Aku menengok, kulihat si Mr. Misterius itu sedang bermain PSP, ahhhh ...
Aku teringat, oh ya, ini kan hari pertamaku belajar dengannya, seperti apa jadinya nanti ya? Hmm ...
Beberapa menit kemudian songsaenim masuk dan segera membuyarkan lamunanku. Pelajaranpun dimulai ...

~Beberapa jam kemudian >>>

Ahhh... akhirnya waktunya pulang juga, aku lalu berniat untuk menghampiri Kyuhyun bermaksud untuk menanyakan rumahnya, tapi langkahku terhenti.

"Hyunji ... ayo kita pulang" Tiba-tiba saja key mengagetkanku dari belakang dan langsung menggandeng tanganku.

"Ahhh mianhae Key, aku ada urusan lagi, hehehe" kataku sambil nyengir

"Yah... kau ini, aku tidak akan pulang, aku akan menunggumu di sini.TITIK" katanya sambil menekankan kata yang terakhir.

"Tapi..." cegahku.

"Ahhh sudahlah, aku tidak mau mengkhawatirkanmu seperti kemarin" Apa tadi katanya? Apa maksudnya? Ada angin apa dia berbicara seperti itu? Ahhh whatever.

"Ne^^ tunggu aku di sini, aku akan menemui seseorang" kataku padanya.

Aku lalu menghampiri Kyuhyun yang sedang berjalan yang kali ini sedang bermain PSP -___-

"Kyuhyun" panggilku. Dia masih saja belum menatapku, apa kejadian ini akan terulang lagi ya Tuhan? Huftt aku meniupkan poniku untuk membuatku sedikit rileks

"CHO KYUHYUN!"  Aku memangilnya dengan merebut PSP dari tangannya, keterlaluan mungkin sikapku sekarang. Kurasa.
Dia menatapku seperti ingin menyantapku, aku benar-benar takut sekarang.

"Cho Kyuhyun, Mian ... aku tidak bermaksud" kataku di iringi langkahku yang mundur.

"AKU TADI HAMPIR MENANG TAU! KURANG SELANGKAH LAGI!" dia berkata dengan tanduk yang mulai keluar dari kepalanya dan asap yang keluar dari telinganya. Oke, ini mungkin berlebihan. Tapi itu yang kurasakan sekararang.

"Mian ... aku tadi memanggilmu, kau tak menatapku juga, makanya aku merebut PSPmu" aku langsung menyerahkan PSP dari tanganku ke tangan Kyuhyun.

"Ahh ya sudahlah, lupakan, tidak ada untungnya aku marah-marah, toh itu semua gak akan membuat aku menang dalam game itu" Ha? Apa yang dia katakan? Aduhhh sekarang aku benar-benar lega ^.^
"Memangnya ada apa lagi kau memanggilku?"

"Aku, aku ... hmm, tidak tahu rumahmu, kemarin aku ingin menanyakan ini tapi kau sudah pulang duluan" kataku

"Owh, hanya itu, ayo ikut aku" Dia menggeret(?) tanganku dan menyeretku untuk ikut bersamanya.

"YA! Kau mau membawaku kemana CHO KYUHYUN?!" aku berusaha melepasakan tanganku dari genggamannya. Sakit.

"Kau pulang bersamaku saja naik motor, katamu kau tak tahu rumahku? Aku akan memberitahumu, sekalian kita bisa memulai belajarnya" katanya dengan enteng.

"Dulu kau bilang pulang sekolah langsung ke rumahmu, tapi kan aku harus pulang dan ganti baju dulu, lagian aku juga harus izin kepada saengku" kataku, yang membuat dia menghentikan langkahnya.

"Oke, aku akan mengantarmu ke rumahmu dulu, setelah itu ke rumahku" Apa tadi yang dia katakan? Ahhh aku turuti saja keinginannya. Mau gimanapun juga aku tidak akan menang melawannya. Dia itu seorang namja sedangkan aku yeoja, tenaganya pasti lebih kuat namja.
Ah aku melupakan sesuatu
"Chakkam! Ijinkan aku menelfon seseorang dulu" kataku pada Kyuhyun yang diikuti dengan anggukannya.

"Yeoboseyo ..."

"Yeoboseyo ... ya! Hyunji kau dimana? Kenapa lama sekali?" omelan itu lagi -____-

"Aku pulang bersama Kyuhyun, kau pulang duluan saja" tanpa menunggu jawaban Key aku langsung menutup telponku.

Kami sudah sampai di parkiran, dia langsung menghidupkan mesin motornya. Wow, motornya keren juga ^.^
Dia menyerahkan helm kepadaku dan menyuruhku untuk cepat naik, darimana dia mendapatkan helm yang satunya? Ahhh aku tidak mau pusing memikirkan itu.

"Diamana rumahmu?" tanyanya kemudian

"Turuti saja aba-abaku nanti, rumahku lumayan dekat kok dari sekolah"kataku lalu mengenakan helm itu.

Ketika di tengah jalan, aku melihat Key yang pulang dengan berjalan kaki seperti biasa. Tapi dia terlihat sedih walaupun aku hanya melihat tubuhnya dari belakang, semua itu sudah terlihat jelas. Tapi kenapa?

Ketika aku melewatinya aku menyapanya.
"KEY!" Aku melihat ke belakang dan dia hanya membalas dengan sebuah senyuman.

Akhirnya sampai juga di rumahku, aku langsung melesat(?) ke rumah. Kyuhyun sudah aku suruh masuk tapi dia menolakku. Huh terserah dia lah ==

"Anyeong ... " kataku pada Yoseob, tapi aku melihat ada 2 bocah di rumah, siapa itu? Oh ternyata Gikwang teman satu kelas Yoseob.

"Anyeong ... " jawab serempak dua bocah itu.

"Eh, ada Gikwang juga ya" kataku berpura-pura sok manis.

"Iya nuna ^^. Eh, itu bukannya Kyuhyun hyung?" kata Gikwang sambil melihat siapa yang ada di luar.

"YA! Nuna pulang bersama seorang namja! Kyaaaa" kata Yoseob benar-benar kaget. Emangnya kenapa? Sampai sebegitunyakah diriku ? ><

"Tuh kan, nuna juga bisa kok di antar pulang seorang namja, wek :P . Eh Gikwang, darimana kau tau kalau itu Kyuhyun?" kataku sambil menunjuk-nunjuk Kyuhyun.

"Dia itu dulu teman satu kelasnya hyungku, Nickhun. Tapi sekarang aku gak tau kabarnya lagi, yang kutahu dulu oppa sering sekali bilang kalau Kyuhyun sangat lemah dalam matematika" eh, tunggu dulu? Apa yag dia bilang? Lemah? Bukannya Kyuhyun sekarang sangat pintar matematika, bahkan kalau ada soal di papan tulis dia bisa mengerjakannya hanya dengan waktu beberapa detik.

"Bukannya dia itu sangat pintar dalam pelajaran matematika?" kataku memastikan pendengaranku.

"Aniyo ... dia itu sangat lemah bahkan dulu sering mendapatkan nilai 0 , aku tahu karena hyungku sering berbicara begitu kepadaku" aku kaget  dengan perkataanya, mana mungkin seorang Cho Kyuhyun yang ku kenal sekarang pernah mendapat nilai 0 di ulangannya? Ahhh daripada pusing memikirkan itu semua, aku segera berlari ke kamarku dan berganti baju. Kasihan juga Kyuhyun pasti jamuran menungguku di luar.
Aku sudah selesai ganti baju dan aku segera memasukkan buku-buku ku ke dalam tas.
"Yoseob, tolong jaga rumah, jangan kemana-mana, nuna mau belajar dulu" kataku sambil menuju ruang tamu tempat Yoseob berada.

"Nuna mau belajar kemana?"

"Di rumah temen nuna, itu yang ada di luar yang kita bicarakan tadi" kataku pada Yoseob yang langsung clingak-clinguk(?) menatap ke luar.

"Belajar apa?" tanyanya kemudian.

"Tentu belajar matematika lah, yang lain nuna kan sudah handal" kataku dengan bangga.

"Bukankah Kyuhyun hyung itu sangat payah dalam pelajaran matematika? Kita kan sudah membicarakannya tadi" Gikwang tiba-tiba dengan lancangnya menerobos masuk(?) di antara pembicaraanku dengan Yoseob.

"Dulu berbeda dengan sekarang, kau tak tahu? Dia sekarang sangat pintar dalam matematika" aku langsung meninggalkan mereka berdua dan menuju ke luar.
"Anyeong ... " Teriakku dari luar

"Anyeong ... " Mereka pun menjawab secara bersamaan -lagi-

"Kyuhyun, mian sudah membuatmu menunggu lama" Aku lalu mengatakan ini begitu berhadapan dengan Kyuhyun, aku merasa bersalah. Ini gara-gara 2 tuyul itu sih ><

"Gweanchana ... Ayo cepat naik" Huhh syukurlah dia tidak marah, aku lalu naik dan mesin pun dinyalakan, aku tak akan berpegangan padanya, waktu pulang sekolah tadi aku juga tak sedikitpun menyentuh tubuhnya. Ihhh ogah =,=
Tapi ...

"Ya! Mengapa kencang sekali!" kataku sambill memukul punggungnya dan berteriak. Otomatis tanganku erat berpegangan padanya.

"Aku sangat benci membuang waktu. Ya! Tak usah berpegangan padaku!" Katanya sambil menengok ke belakang dan berusaha melepaskan tanganku.

"Jika aku tak berpegangan padamu maka aku akan jatuh. Jebal, pelankanlah motormu ini" Kataku sambil terus berteriak.

"Tak akan, aku harus cepat pulang ke rumah. Aisshhh ya sudahlah kau ku perbolehkan berpegangan padaku" Akhirnya dia memperbolehkanku juga. Senang rasanya ^.^
Eh, apa yang tadi aku bilang? Senang? Aduhh apa-apain sih aku ini ><
Dia mengendarai motornya sangat kencang sekali, sampai aku menutup mataku dan tak berani melihat jalan, tubuhnya begitu, hangat ...

"Sudah sampai babo!" Aku langsung membuka mataku ketika mendengar suara itu. Wow, rumahnya ternyata bagus juga.

"Gomawo" kataku sambil membungkukkan badanku kepada Kyuhyun.

"Cepat masuk" katanya tanpa ekspresi. Aku langsung memasuki rumahnya dan rumah ini benar-benar.....
Kotor, berantahkan, tak berbentuk, persis kayak kapal pecah. Segera aku menarik omonganku yang menganggap kalau rumah ini bagus. Sangat bertolak belakang dengan keadaan di dalamnya -___-
"Ayo duduk, kita belajar sekarang" Dia lalu merebahkan tubuhnya di sofa miliknya.
"Kau tidak ganti baju dulu? Bau tau!" Kataku sambil pura-pura menutup hidungku seakan dia tidak mandi selama setahun lebih.

"Kau cerewet sekali. Sudahlah tidak usah mencampuri urusanku" Oke, kali ini aku mengalah, aku benar-benar capek harus bertengkar dengannya setiap detik.
"Mian, rumahku berantahkan" katanya kemudian.

"Gweanchana ... By the way, dimana appa dan ummamu? Aku tidak melihatnya dari tadi" kataku kemudian, lagian aku terus berfikir, tidak mungkin kan ummanya akan membiarkan rumah sebagus ini menjadi kapal pecah =='

"Appa dan ummaku tinggal di rumah yang satunya di Jln. Chunji, aku tinggal sendirian di sini"Jawabnya. Tumben kali ini dia tidak marah kalau aku menanyakan hal yang pribadi.

"Jln. Chunji? Bukankah itu lumayan dekat dari sini. Mengapa kau tak tinggal dengan mereka saja?" Kataku kemudian, aneh-aneh saja namja ini.

"Ani ... aku hanya ingin mandiri saja, aku sudah tinggal sendirian di sini dari umur 13 tahun"
Mwo? Benar-benar kurang kerjaan. Untuk apa dia tinggal sendirian jika tidak bisa mengurus dirinya sendiri? Apalagi rumahnya -__-  Dia itu masih butuh bimbingan orang tua. Aku benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran namja ini.
"Sebelum kita mulai belajar, aku punya satu syarat untukmu" tanyanya yang membuyarkan pikiran ku.

"Mwo? Syarat? Syarat apa itu?" Kataku dengan perasaan yang was-was, takut kalau dia akan meminta yang aneh-aneh.

"Kau! Jangan pernah lagi datang ke rumahku setelah tes beasiswa itu. Deal?" ujarnya diiringi dengan uluran tangan.

Apa yang dia fikirkan? Siapa juga yang mau datang ke rumahnya lagi. Tanpa pikir panjang aku langsung menjawab
"Of course, DEAL! " Ujarku sambil membalas uluran tangannya.

"Kau kerjakan soal ini dulu sebisamu, nanti aku akan membetulkannya" katanya kemudian. Oke, aku turuti saja, aku lalu berusaha mengerjakan soal yang di berikan Kyuhyun. Ini sulit sekali ><
Aku intip sebentar si Kyuhyun. YA! Apa yang dia lakukan ?!!

"Kyuhyun! Mengapa kau malah bermain PSP sih ?!" kataku sedikit membentak tanda tak terima.

"Diam saja kau! Kau yang belajar padaku, turuti saja perkataanku, lagian daripada aku boring menunggumu mengerjakan soal itu, lebih baik aku bermain PSP" Dia berbicara panjang lebar. Oke, kurasa aku harus mengalah -lagi-

Setelah beberapa menit mengerjakan soal itu dengan susah payah akhirnya selesai juga, aku langsung memberikannya kepada Kyuhyun

"Aku sudah selesai" kataku ketus karena efek dari masih pusingnya kepalaku ini.

"Lama sekali" katanya dengan nada meremehkan. Hihhhhh sebel!

"Dasar babo! Benar-benar babo! Masa 10 soal kau hanya bisa menjawab 4 soal dengan benar, kau benar-benar payah" Cepat sekali mengoreksinya, aku sendiri sampe heran o.O
MWO? Apa yang dia bilang, dia meremehkanku.

"Maka dari itu aku meminta bantuanmu, kalau aku sudah bisa ya tidak mungkin aku ke sini" Aku berusaha mengakui kelemahanku.

"Oke, begini caranya ..." katanya sambil menerangkan. Aku benar-benar kagum. Cara mengerjakan soal itu berbeda dengan apa yang di ajarkan songsaenim, dia lebih menggunakan logika bukan rumus, yang menurutku itu semakin mudah di pahami ^.^
Sekitar 2 jam aku belajar dengannya, akhirnya selesai juga. Aku benar-benar senang sekarang, dia membuatku lebih mengerti matematika.

"Anyeong... sepertinya aku harus pulang dulu, ini sudah hampir malam" Kataku kemudian yang hanya di tanggapi dengan anggukan kepalanya.
Aku lalu menghentikan taksi di depanku dan pulang ...


@Rumah Hyunji >>>.

"Anyeong ... "
Loh? Kok tidak ada jawaban, dimana Yoseob?

"Seobie ... kau belum pulang?" Kataku sambil berteriak dari luar dan ternyata tidak ada yang menjawabnya, tumben sekali saengku jam segini belum pulang. Eh? Apa itu? Aku melihat bungkusan tepat di depan pintu. Bungkusan kotak itu tampak sangat cantik sekali di tambah dengan pita pink di atasnya. Tanpa buang waktu aku segera membukanya.

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAA~ " Aku berteriak sekeras - kerasnya dan langsung terduduk di atas lantai karena kakiku mendadak lemas dan kepalaku sakit.
Mworago??!! Boneka beruang putih tanpa kepala  yang dilumuri oleh darah segar, yang kurasa sudah berubah menjadi beruang merah dan ada tulisan --JAUHI DIA ATAU KAU KAN MATI-- Aku memegangi kepalaku yang kali ini mungkin sakitnya tambah parah. Baru pertama kali aku menerima bungkusan dan itupun isinya sangat menakutkan.

"Nuna ... what happen?" aku mendengar suara Yoseob yang sepertinya baru pulang. Dia segera menghampiriku dengan panik dan segera menenangkanku.
"I-i-i-go" Kataku gugup sambil menunjuk bungkusan tadi. Yoseob pun segera berlari dan melihatnya.

"MWORAGO?!! Siapa yang berani-beraninya ngirim ini ke rumah kita?" Yoseob benar-benar emosi dan langsung membuang bungkusan itu.

"Molla" air mataku tak kuasa ku tahan, aku benar-benar takut, siapa yang melakukan ini semua.

"Nuna tenang saja, saeng akan menjaga nuna, saeng janji" Yoseob langsung duduk menemaniku dan memelukku.
"Mian tadi saengmu yang babo ini pulang terlambat nuna" Kata Yoseob yang masih terus memelukku. Aku balas pelukannya, aku sangat menyayanginya. Tentu saja, dia satu-satunya keluarga yang kupunya, jadi hal yang biasa jika aku bersikap seperti ini.

"Gweanchana, lagi pula darimana saja kau ini?" Aku melepaskan pelukannya dan menatap matanya.

"Sudahlah, nuna tak perlu tahu. Mendingan kita sekarang masuk dan segera buatkan masakan, perutku sudah lapar. Anggap saja kejadian ini tak pernah terjadi" Yoseob tersenyum padaku dan langsung memapah badanku untuk masuk ke rumah.


Keesokan harinya >>>.

Aku berangkat sekolah seperti biasa dengan Key, suasananya begitu berbeda, kami saling diam. Aku masih tidak bisa tersenyum apalagi mengingat kejadian semalam. Benar-benar membuat kepalaku sakit.

"Hyunji, mengapa wajahmu murung begitu?" Key membuka pembicaraan setelah sekian lama kami hanya terdiam.

"Gweanchanayo" Kataku sambil masih memandang lurus ke depan.

"Ayolah, sejak kecil aku sudah mengenalmu. Kau tak bisa membohongiku, katakan saja ada apa? tatap mataku!" katanya sambil menarik wajahku agar mataku melihat ke matanya.

"Ya! Key tak usah seperti itu, sakit tau!" Kataku mencoba melepaskannya

"Makanya, ceritakan padaku! Ada masalah apa?"

"Hmm, aku mendapat teror Key" Ujarku dengan wajah tertunduk.

"MWO??!! HAHAHAHHA, jangan bercanda denganku kau Hyunji, memangnya ada orang yang tertarik menerormu, memangnya kau siapa? Hahaha" Kata Key dengan tawa khasnya itu.

"Aku serius Key! Disitu juga ada tulisan --JAUHI DIA ATAU KAU KAN MATI-- Padahal aku selalu bersikap baik pada semua orang, dan kurasa aku tak punya masalah dengan siapapun"

"Kau serius Hyunji? Kau benar-benar di teror? Siapa yang menerormu? Benar-benar harus di beri pelajaran" Kata Key sambil meremas kedua tangannya seakan siap untuk menghajar seseorang.
"Aku takkan membiarkanmu ketakutan seperti ini"Dia lalu tersenyum manis kepadaku.
Akhir-akhir ini Key bersikap aneh padaku, dia jarang sekali cerewet seperti dulu, suka senyum-senyum sendiri ketika melihatku dan kadang memberikan perhatian kepadaku yang terlalu berlebihan. Mungkin dia lagi sakit ><
"Apa mungkin yang melakukannya ... " kata Key kemudian yang membuyarkan lamunanku.

"Nugu?"  Kataku penasaran kepada Key.

"Kau tahu kan geng missA yang terkenal itu? Aku kemarin tak sengaja mendengar kalau mereka sangat mengidolakan Cho Kyuhyun, dan mereka akan melakukan teror pada seseorang karena tak rela idola mereka di dekati orang lain" Key menjelaskannya dengan serius.

"Maksudmu kau mengira kalau orang yang di bicarakan itu adalah aku? Kau jangan asal bicara sebelum kau pergoki mereka dengan mata kepalamu sendiri" Ujarku berusaha mencerna cerita Key

"Ne~ Tapi takkan kubiarkan mereka melakukan ini kepadamu. Beraninya hanya dari belakang" Kata Key dengan api yang menyala di matanya

"Hahaha, tak usah Key, aku bisa menjaga diri dengan baik" Kataku sambil tersenyum ke arah Key.
Hmm, kurasa perkataan Key tak ada salahnya. Geng missA memang selalu berusaha mendekati Kyuhyun tapi tak pernah diladeni(?) sedikitpun olehnya.

"Kau benar Hyunji. Tapi sepertinya untuk jaga-jaga menjauhlah dari Kyuhyun daripada nanti mereka akan menerormu lebih dari ini" Key menatapku dengan rasa khawatir.

"Tak akan, aku harus belajar dengan Kyuhyun sampai aku mendapatkan beasiswa itu lagi. aku takkan menyerah begitu saja dengan teror mereka" Kataku dengan suara yang mantap.


7 Days Later >>>>.

Tak kusangka hari begitu cepat berlalu.
Hari-hari belajarku dengan Kyuhyun, aku sungguh merasa bahagia di dekatnya, aku merasa terlindungi dan jantungku seakan memompa darah lebih cepat jika ada di dekatnya, aku benar-benar tak tahu perasaan apa ini, tapi aku begitu menikmatinya.

Selama aku belajar dengan Kyuhyun, aku terus saja pulang sekolah bersamanya, aku tak bisa pulang sekolah dengan Key. Kuharap dia mengerti bagaimana keadaanku sekarang ini, tunggu Key, tunggu sampai tes beasiswa itu selesai, kita akan bisa pulang bersama lagi, aku janji.

Saeng ku Yoseob selalu saja pulang malam. Apa sebenarnya yang sedang dia lakukan?

Aku benar-benar sudah terbiasa dengan teror itu, aku tak cengeng seperti saat pertama kali menerima teror itu. Sampai saat ini aku tak tahu pasti siapa yang mengirim teror itu. Sekarang teror itu bukan hanya dengan boneka. Makananku yang ada cicak di dalamnya, tasku atau bukuku yang sobek-sobek. Biasanya Key juga kena imbas dari teror itu, kasihan ...

Setelah aku mengenal Kyuhyun sejauh ini, aku merasa dia bukan orang misterius lagi, dia juga sudah mulai terbuka padaku, yah walaupun aku masih belum pernah melihat senyumnya. Kurasa hanya aku, yeoja satu sekolah yang bisa dekat dengannya sejauh ini, kekekeke ...
Sekarang, tes beasiswa itu telah tiba, Aku benar-benar sedih membayangkan itu semua, tak jarang aku ingin menangis. Aku sekarang baru menyesal,mengapa aku menyetujui syarat yang dulu di berikan oleh Kyuhyun T^T
Aku tak bisa belajar dan pulang bareng dengan Kyuhyun aku juga tak bisa lagi ke rumahnya karena perjanjian itu. Kyuhyun,orang yang kucintai.
Apa tadi yang ku bilang? Orang yang aku cintai? Aku baru meyadarinya sekarang ^^
Tapi aku takut mengatakan ini kepada Kyuhyun, takut kalau dia tidak merasakan hal yang sama, dan nanti hubungan kita malah lebih buruk lagi. Aku memilih untuk memendamnya saja :(

Hari ini aku siap dengan tes itu, kalau biasanya aku selalu merasa ragu untuk pelajaran matematika, tapi sekarang AKU SIAP DENGAN SEMUA MATA PELAJARAN ... ! HOREE!! Aku benar-benar senang.
Peserta sudah masuk ke dalam ruangan. Aku benar-benar semangat, soal dibagikan, dan aku segera mengerjakannya.

Tes sudah selesai. Kata ahjussi tadi, orang yang dapat beasiswa itu akan di telfon.
Aku merasa bisa mengerjakan soal itu, tapi aku benar-benar takut dengan pesertanya, ada wajah-wajah asing yang belum pernah kulihat yang sepertinya jauhhh lebih pintar dariku >.<

Hmm, aku ingin pergi ke rumah Kyuhyun, untuk yang terakhir kalinya mungkin. Tanpa buang waktu aku pun segera menyetop taksi yang ada di depanku.

Ketika sudah sampai segera kupencet bel rumahnya, tapi tak ada jawaban. Kucoba membuka pintunya. Tidak dikunci .Kurasa ini kesempatan yang baik, aku akan membuat kejutan untuknya ;-)

Segera kuambil sapu dan alat pel atau apa saja untuk membersihkan rumah yang seperti kapal pecah ini. Pasti Kyuhyun akan senang jika dia pulang rumahnya sudah bersih, kekekeke aku tertawa kecil membayangkannya.
Sudut demi sudut sudah mengkilau(?) dan ruang demi ruang sudah aku bersihkan. Oke, mungkin ini lancang tapi aku kan hanya membersihkan, bukan mencuri barang atau semacamnya :D

Semua ini benar-benar melelahkan, keringatku banyak yang keluar dan aku benar-benar haus, bukan hal yang mudah ternyata membersihkan rumah ini, fiuhhh...
Karena haus aku ingin mengambil minuman dulu di dapur, ahhh segarnya. Eh? Apa itu? Ada pintu di balik lemari kecil itu. Karena penasaran aku segera menggeser lemari kecil itu dengan sekuat tenaga. Ini benar-benar berat.
Segera aku membuka pintu itu,ahh terkunci. Eottokhe? Eh, itu apa? Kulihat kunci ada di samping pintu itu tertutupi dengan kain yang sudah lusuh. Mungkin ini kuncinya! Kataku antusias.

KIMCHI! Ternyata benar, aku sungguh bahagia. Kubuka pintunya dan ...

"MWOOO??!!!" Aku hampir jantungan, langkahku perlahan mundur, aku benar-benar takut. Bulu kuduk ku berdiri, keringat dinginku perlahan keluar, kakiku benar-benar lemas, kepalaku sakit.
Kamar ini begitu luas, dinding putih kamar ini benar-benar penuh dengan coretan-coretan, sangat penuh sampai berubah menjadi dinding hitam, kuamati satu persatu ternyata itu adalah angka, ada sekitar beribu-ribu, salah, mungkin bertriliun-triliun atau lebih angka di sana. Aku merasa ada di kamar psikopat sekarang. Di sana ada sebuah foto, aku perlahan mendekatinya.

 "MWOO??!!"  Itu fotoku. Foto saat aku masih sekitar umur 13 tahun. Disini hanya ada dua barang. Fotoku dan ...
Omo??!! Itu ...

Kudengar langkah kaki dari luar,
"Hyunji! Ada dimana kau? Sudah kubilang jangan pernah da-" Aku yakin itu suara Kyuhyun, dia tiba-tiba menghentikan kata-katanya dan menghentikan langkah kakinya ketika melihatku di sini.
"Hyunji! Bagaimana kau bisa sampai ke sini??!!" Katanya dengan sangat terkejut.

"Apa ka-u bis-a je-je-laskan ini CHO KYUHYUN ... !" Kataku tergagap dan bergetar, aku membalikkan badanku, dan kuberanikan untuk menatapnya. Kurasa mataku sudah memerah dan tinggal menunggu waktu untuk air mataku menetes.

"i-i- itu ..."


Read more...

Game

Starry Sun

Kamu Pembaca Ke

What Time Is It ?

Labels

Followers