Rabu, 17 April 2013

Dongeng Di Balik Bukit

| |

Gadis kecil itu tersenyum ramah
Mata beningnya menari-nari
Meski tulang patah dan otot copot
Memandang senyummya yang tulus mata hatiku terbuka

            Kami -murid ekstra jurnalistik- melakukan kegiatan supercamp untuk mengisi liburan. Melihat anak di luar sana sedang berlibur di kota-kota dan menghabiskan uang mereka, kami memilih untuk ke sini, di kecamatan Gondang, butuh waktu kurang lebih satu jam dari Bojonegoro.
            Aku berangkat bersama empat temanku lainnya, Arum, Nisa,Oliv dan Rosida. Aku di bonceng oleh Arum menggunakan sepeda motornya, sedangkan Nisa berboncengan dengan Rosida, Oliv dengan Pak Prawoto -guru ekstra jurnalistik kami-
            Hutan, jalan yang menikung dan jalanan yang rusak pun kita santap tanpa ampun. Kami berdo'a dengan sungguh-sungguh agar selalu diberi keselamatan untuk mencapai tujuan.
            Matahari masih berjalan untuk sepenuhnya berada di tengah, kira-kira sebelas siang aku sampai di sini. Sejenak kulepas lelah, mengayun-ngayunkan kaki dan melakukan senam kecil sebentar. SMPN 2 GONDANG kami sampai..
            Kami mampir di warung depan sekolah untuk membeli mie, mie lengkap dengan sayuran dengan harga Rp 2000,-. Harga tersebut tergolong murah bila dibandingkan di Bojonegoro. Pertama kali yang aku suka dari tempat ini adalah : harga makanan yang jauh lebih murah
            Setelah itu kami digiring oleh Pak Prawoto ke ruang TIK. Pertama kali ku lihat wajah gadis kecil itu, dengan wajahnya yang bersih bersinar-sinar, matanya yang hitam bening,  satu jepit rambut hitam untuk menjepit poninya dan rambutnya yang selalu dikuncir satu di belakang.
“Syarifa, Rosida dan Arum kalian akan tinggal di rumah Lilis,mulai sekarang kalian bersaudara, ayo ndang berpelukan” begitulah kata Pak Prawoto.
Para gadis kecil itu menolak dengan manja, “ Ya Allah Pak, kami habis olahraga, baunya kecut, nggak enak”
            Dia lah Lilis Isnanti adik kecil yang kumaksudkan tadi, aku dan kedua temanku bermaksud untuk mengisi liburan dengan tinggal di rumahnya, sedangkan Olivia dan Nisa di rumah Maryati. Kami berpencar ketika bel pulang sekolah tengah berdering.
“Dek kok nggak pakek sepatu? Sepatunya kok dijinjing?” begitulah awal percakapanku dengan Lilis.
“Lha tadi habis olahraga lo kak..”
“Lha terus kalau habis olahraga kenapa? Ndang pakek to..”
“Enggak mbak udah biasa..”
            Aku dengan kedua temanku masih berjalan menyusuri jalan ber-paving dengan membawa tas kami yang berat. Adik itu mempimpin di depan, bersama dengan temannya, Monika.
“Dek rumahmu masih jauh ta?”
“Masih jauh kak..”
            Aku yang saat itu sudah kelelahan, benar-benar tak bisa berhenti mengeluh, keringat mulai mengucur deras dari pelipis dahi, apalagi matahari sudah mencapai perjalanananya, di tengah, tepat di atas kepala kami, tepat pukul dua belas siang.
            Setelah berjalan agak jauh, adik kecil itu berkata, “Sini lo kak kesini..”
“Loh kok ke sana dek?” Aku yang saat itu mulai kelelahan sukses membuat huruf O besar di mulutku, di sana tidak ada jalan, hanya jalan setapak di antara sawah.
“Iya lewat sii, habis itu turun bukit, lewati sungai, naik bukit, baru sampai rumahku kak, kurang lebih setengah jam dari sini”
“Hahh....”
            Ini hanya jalan setapak dengan batu-batu di antaranya. Aku tak bisa membayangkan jika aku harus melewati jalan ini terus untuk ke sekolah.
“Kak lebih baik dicopot aja sandalnya, nanti licin malah kebleset”
Eh enggak kok dek, sandalnya lagi nggak licin, aku pakai aja ya..” Aku memilih untuk tetap memakai sandalku daripada malah kakiku yang terkena benda tajam.
Adik itu yang aku tak tahu bagaimana caranya, mengapa dia dengan kaki telanjang bisa dengan mudah melewati batu-batu dan jalan setapak yang curam ini? Mataku tak berhenti memandangi kaki mungil yang kuat itu.
“Dek udah sampai?” Arum, temanku mulai bertanya.
“Belum kak lha wong ini belum turun bukit juga”
“Dek leren dulu dek aku udah nggak kuat, Ya Allah dadaku sesek” begitu sambung Arum lagi.
Kami yang baru pertama ini mengalami pengalaman sepeti ini, benar-benar lelah, kami berhenti di bawah pohon besar untuk istirahat dan minum.
“Dek minum?” aku menawarkan
“Nggak kak..”
“Loh apa nggak haus?”
“Udah biasa..”
Berulang kali aku sukses membuat huruf O di mulutku, nggumun dengan anak-anak yang hidup di desa ini. Mengapa mereka begitu kuat?
            Akhirnya kami turun bukit juga, melewati batu-batu dan jalan yang curam, berulang kali aku menjerit-njerit takut kebleset dan jatuh, harus ku akui aku yang paling banyak menjerit dan yang paling takut melewati bukit ini ketimbang kedua temanku.
Teringat aku akan kehidupanku di Bojonegoro, yang jarak antara rumahku dengan sekolah hanya 1km, dengan aspal yang bagus plus naik sepedah motor pula, tapi berulang kali aku telat. Dia yang setiap hari harus melalui jalan ini untuk ke sekolah, tak pernah telat dan semangatnya untuk ke sekolah itu benar-benar membuka mata hatiku. Tiba-tiba air mataku menetes. Hal kedua yang aku sukai dari tempat ini adalah : semangat anak-anak untuk bersekolah
            Bunyi gemericik air mulai terdengar. Subhanallah, sungainya sekarang telah tampak. Kecil tapi indah, kami yang semula ingin foto-foto dan kecek di sungai itu tiba-tiba sirna dengan rasa capek yang luar biasa ini.
“Wes dek penting ndang teko omah ndisek, keceknya besok ae” Rosida mengatakan itu pada si adik.
            Akhirnya kami melewati sungai itu, dengan menginjak batu-batu di antara sungai. Aku yang untuk ke sekian kalinya, menjerit lagi. “Aaaa”
            Rute selanjutnya setelah melewati sungai adalah menaiki bukit, dan ternyata disinilah puncak dari segalanya. Aku yang pada saat itu berada di belakang sendiri berteriak, “Adik berhenti..!!”
Tubuhku mulai ngeleyang, dan mata mulai berkunang-kunang, jangan sampai aku pingsan di sini.
“Dek leren lagi ya dek..”
di tengah jalan bukit yang menanjak kami berhenti,
“Haduh dadaku sesek..” aku mengeluh lagi untuk ke sekian kalinya.
Tapi ini benar, kehidupanku yang hanya leha-leha di kota, seperti berbanding terbalik 180 derajat hari ini, terlempar keluar dari kotak amanku.
“Ayo kak kurang sebentar lagi, di atas sana sudah kampungku kak..”
Tanpa kulihat kelelahan di matanya adik itu menyemangatiku. Aku tersenyum, aku pasti bisa. Masak kalah sama anak kecil.
            Akhirnya sampai juga di kampung itu, ah.. kuberbalik dan kupandangi pemandangan yang ada di belakangku. Subhanallah..
Hal ketiga yang aku sukai dari tempat ini adalah : pemandangannya yang luar biasa
            Adik itu mengantarkan kami di rumahnya, ruang tamunya beralaskan kayu, tapi di sisi lainnya tak beraalas, hanya beralaskan tanah. Aku terkesiap. Langsung kudatangi dan kusalami orang yang ada di rumah itu. Kami dipersilahkan masuk ke kamar Lilis. Tertancap tulisan di tempel di depan itu “Disiplin Adalah Harga Diri Paling Tinggi”
            Setelah itu kami mengambil wudhu dan sholat. Seteah selesai kami digiring di ruang tamu dan menyetel televisi. Kakaknya Lilis langsung menuju dapur mempersiapkan makanan. Kami di ajak Lilis ke ruang tamu sekaligus ruang keluarga itu, kami menonton televisi. Yang aku herankan sekarang adalah.. televisinya sangat jelas, padahal kan lagi di desa. Apa karena kampungnya ada di atas bukit?
“Dek suka lihat film korea?” aku menanyakan dengan maksud ingin memulai perbincangan daripada diam saja.
“Suka kak, mau lihat film korea ta?”
“Eh gak usah liat ini aja, lagian jam segini kan nggak ada”
“Loh ya di TV Korea to kak..”
“Loh maksudnya?”
“Kan ini pakek parabola kak..”
“Hah..?” aku ndomblong
Hal keempat yang kusukai dari tempat ini adalah : adanya parabola
            Seusai menonton televisi kami tertidur, karena kami lelah.
            Bangun tidur kami mengajak Lilis jalan-jalan untuk melihat lingkungan sekitar. Akhirnya kami jalan-jalan di desa itu, Lilis mengajak temannya lagi, Monika. Ketika kami sedang enak-enakan berjalan tiba-tiba ada sekumpulan orang ramai di depan rumah warga. Kami bertanya kepada Lilis,
“Lis itu apa?”
“Oh itu Janggrung kak..”
“Loh apa itu dek?”
“Ya kayak ngamen gitu kak..”
“WOW”
Janggrung yang kami lihat itu ada satu orang laki-laki dan satu perempuan mungkin berusia sekitar 50 tahunan. Memabawa microphone dan alat musik., warga berbondong-bondong melihat dari anak kecil hingga orang dewasa. Anehnya, ketika kami lewat, warga malah melihat ke kami. Kami yang berulang kali saling berbisik “ada yang salahkah dari kita?” ternyata tidak. Kami hanya malu-malu dan terus berjalan.
            Pulang dari jalan-jalan kami langsung pulang, karena badan kami yang kotor kami memutuskan untuk mandi. Lilis langsung mengantarkan kami ke kamar mandi, Rosida giliran pertama, Lilis mengajak kami ke kamar mandi neneknya yang tertutup. Ketika Rosida lalu Arum sudah selesai mandi, sekarang giliranku. Aku masuk, tapi aku berniat untuk kembali lagi karena bingung kamar mandinya yang mana.
Setelah beberapa detik kuurungkan niatku setelah kulihat sabun dan bungkus sampo berseakan di bawah. Aku menelan ludah dan untuk kedua kalinya meneteskan air mata, ini kamar mandinya.
            Seusai mandi kami mengambil wudhu dan sholat, kami berbincang-bincang dengan Lilis di kamarnya.
“Dek ada legenda dek disini?”
“Iya kak, legenda gunung Gong”
“Mana itu dek? Ayo ke sana”
“Jauh kak, dulu itu katanya ada seperangkat Gong tapi yang punya itu orang “gaib” jadi gak kelihatan. Kalau mau pinjem itu harus ngomong sama yang punya nanti baru Gong nya muncul. Nah dulu ada yang pinjem kak, tapi Gong nya malah dijual jadi gak di kembalikan, dan yang nyuri it kak akhirnya meninggal sampai cucu-cucunya”
Suhu yang dingin di tengah malam ini dengan diiringi cerita yang agak sedikit horor membuatku merinding.
“Ayo dek tidur aja”
Aku tak sabar menunggu esok, 3 hari menjadi anak gayam, gondang. Aku tak sabar menikmati udara pagi yang sejuk, hal kelima yang aku sukai dari tempat ini. Tapi aku juga tak siap harus dua kali lagi melnuruni bukit,melewati sungai,menaiki bukit lagi untuk berangkat ke sekolah. Banyak pelajaran yang aku dapat disini, aku hanya tak sabar untuk pulang dan memulai hidup baru dari pelajaran yang kuambil dari sini, aku juga tak sabar ingin sesegera mungkin mencium tangan dan pipi kedua orang tuaku di rumah. Inilah dongeng di balik bukit, tak menyangka ada kehidupan yang sangat luar biasa di bukit itu, bahkan sebelumnya aku tak pernah menyangka ada kehidupan disana, di balik bukit itu aku belajar semuanya, dari sana aku tahu arti kehidupan.

0 komentar:

top

Posting Komentar

Mohon apresiasinya :)

Game

Starry Sun

Kamu Pembaca Ke

What Time Is It ?

Labels

Followers